Lovely Roommate – 01

lovely-roomate-1

Title : Lovely Roommate | Author : Qarenzapark
| Main Cast : Lee Jongsuk, Nana After School as Min Hyun Soo | Genre :
Romance, Comedy, Friendship | Length : Multichapter
| Rating : PG 13 ( for now )

*Qarenzapark © June 2014*

*

“ Berwajah mirip, berbeda kepribadian, namun saling melengkapi..”

***

Namanya Im Jin Ah, atau kerap dipanggil Nana. Dia gadis cantik yang merupakan salah satu anggota geng disekolahnya. Geng dimana para anak – anak penghancur mengganggu para murid di Dangwon High School. Dan anehnya, hanya Nana yang merupakan gadis disana, selebihnya adalah laki – laki. Tidak ada yang berani berbuat macam – macam pada Nana karena ia jago beladiri, pemegang sabuk hitam taekwondo.

“ Siapa target kita selanjutnya ?” tanya lelaki itu, Hyunseung. “ Entahlah. Kita sudah dua bulan tidak mengganggu mereka lagi. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku bosan jika seperti ini.” Keluh Kwangmin sambil memainkan PSP-nya. Lalu, kembarannya, Youngmin bertanya, “ Apakah belum ada target yang cocok?”

“ Benar. Belum ada target yang cocok.” Celetuk Nana sambil memakan biskuit coklatnya. “ Memangnya target seperti apa yang kita cari?” tanya Seungri.

“ Targetnya adalah orang yang terlalu mengatur kita. Seperti melarang ini itu.” celetuk Hyunseung. “ Itu dia!” kata Nana membuat keempatnya terkejut. “ Apa?” tanya keempatnya dengan wajah polos.

“ Ketua Osis. Ya. Dia target kita.” Kata Nana tersenyum evil. “ Mengerjainya saja sudah membuatnya takut, ‘kan? Dia hanya Ketua Osis yang bijaksana, bukan jago beladiri. Dia berkacamata dan bertampang lemah.” Ujar Kwangmin.

“ Let’s go!”

***

18:13..

Kwangmin dan Youngmin kini tengah berdiri didepan pintu ruang OSIS. Menunggu si ketua Osis keluar dari kandangnya. “ Lama sekali dia keluar.” Keluh Youngmin. “ Benar. Sedang apa si tengik itu didalam?” tanya Kwangmin.

Ceklek!

Pintu terbuka. Si ketua Osis yang bernama Lee Sungyeol hanya heran dengan kehadiran keduanya, “ Ada apa kalian kemari?” tanya Sungyeol sedikit ketakutan. “ Lutut dan siku Nana terluka. Kunci P3K dimana?” tanya Youngmin.

“ Ada dilaci berwarna biru.” Ucapnya singkat. “ Tidak ada waktu untuk mencari. Lebih baik kau ikut kami.” Ujar Kwangmin. “ Tapi..aku harus pulang tepat waktu.” Mohon Sungyeol.

Perlahan, Youngmin dan Kwangmin mendekat membuat Sungyeol was – was, “ Kau tidak tahu siapa kami?”

“ Ba..baiklah..”

Ketiganya berjalan menuju ruang kesehatan, setelah sampai diruang kesehatan, ketiganya bertemu dengan Hyunseung, Seungri, dan Nana yang kini berpura – pura terluka. Ketika Sungyeol mengambil kunci kotak P3K, kelimanya bersiap untuk membekapnya.

“ Ini kunci- Ummphh.”

Mulut sang ketua Osis kini telah dilapisi lakban membuatnya tidak bisa berbicara. Mereka mengikatnya dikursi dengan tali tambang yang tidak terlalu tebal. Setelah semuanya beres, kelimanya tertawa, “ Lebih baik, seorang Lee Sungyeol tidak perlu susah – susah untuk membuat peraturan yang amat ketat.” Bisik Hyunseung ditelinga Sungyeol. Lelaki lemah itu hanya dapat bergidik ketakutan.

Kini, Nana berada didepannya mulai mengerling nakal, “ Kau tampan juga, ya?” gumamnya seraya mengacak rambutnya. “ Tapi sayang, kau lemah. Bahkan, kau kalah tanding melawanku.” Ucapnya terkekeh.

“ Kalau begitu, ayo kita pergi. Hari sudah mulai gelap.” Kata Seungri. “ Bagaimana dengan Sungyeol?” tanya Youngmin. “ Kita kunci saja dia disini sampai besok pagi. Kami masih berbaik hati membiarkan hidungmu dapat menghirup oksigen. Kalau begitu, sampai jumpa!”

BAM!

Kini pintu tertutup rapat dan terkunci. Sungyeol yang berada didalamnya kini menangis dan terus meminta tolong berharap seseorang mendengarnya, walaupun mulutnya terbungkam sebuah lakban.

***

Pagi ini, Nana menaiki motornya menuju sekolah. Ia terus tersenyum dan penasaran bagaimana keadaan Sungyeol diruang kesehatan. “ Bagaimana si ketua Osis tampan itu ya?” gumamnya. Kini, motornya telah terparkir diparkiran. Saat ia mulai memasuki gerbang sekolah, Kwangmin menghampirinya dengan wajah yang amat panik, “ Kwangmin, apa yang terjadi?” tanya Nana. “ Nana, lebih baik kau pergi. Polisi tengah berada disini sekarang. Mereka mengincar kita.” Paniknya.

“ Apa?! Polisi?” tanya Nana tidak percaya. “ Ya. Cepat pergi, atau kau akan ditangkap juga, Nana!” paksa Kwangmin mendorongnya untuk menjauh.

“ Bagaimana dengan kalian? Aku tidak ingin pergi sendiri tanpa kalian. Kita sahabat, bukan?” ucap Nana dengan air mata dipipinya. Kwangmin memeluknya, “ Kita sahabat, yang selalu saling membantu. Kami ingin kau selamat dan tidak ingin seperti kami. Kami sayang padamu, Na. Sekarang pergilah!” kata Kwangmin.

Nana melepaskan pelukan Kwangmin, “ Tidak, Kwangmin. Aku ingin bersama kalian.” Ucapnya. “ Kumohon pergi, Na. Pergi!”

Ketika mendengar suara tapak kaki yang banyak, Kwangmin menyuruh Nana berlari. Nana tetap berusaha untuk tidak melepaskan genggaman tangannya, namun Kwangmin memaksanya. Dengan berat hati, ia meninggalkan Kwangmin dan menuju parkiran.

Ketika sudah jauh dari gerbang, Nana mengintip lewat pohon. Disana, Kwangmin tengah dipukuli aparat kepolisian karena ia mencoba melarikan diri. Bukan melarikan diri, Kwangmin ingin menyelamatkan Nana sebelum Nana tertangkap. Nana menangis dibalik pohon sambil menyesali perbuatannya. Mereka berlima, ia, Hyunseung, Seungri, dan si kembar Kwangmin dan Youngmin adalah sahabat yang kini harus terpisah.
***

Nana kini berjalan tanpa tujuan dan masih mengenakan seragamnya, ia memutuskan tidak membawa motornya karena motornya pasti akan diincar juga oleh polisi. Airmata masih membekas dipipinya. Jika ia pulang, ia akan mendapat hukuman berat dari orangtuanya, dan ia memutuskan tidak kembali kerumah.

“ Apa yang harus kulakukan?”

Ia duduk disalah bangku dan melihat sekitar. Ia meraih ponsel disakunya sambil melihat foto – fotonya bersama keempat sahabatnya itu. Sekarang, ia tidak tahu pergi kemana. Lalu, sebuah ide terlintas dari otaknya. Bagaimana jika ia menyamar? Menjadi seorang laki – laki mungkin? Dan sekolah diasrama khusus laki – laki. Semua orang tidak tahu jika ia adalah Im Jin Ah yang merupakan buronan saat ini.

Ia pergi kesalah satu salon yang menyediakan rambut palsu. Ketika menemukan yang cocok, ia membelinya. Namun, ia memutuskan untuk memotong rambutnya menjadi sebahu, mungkin tujuannya agar wig nya lebih mudah dipasang. Semua anak Dangwon tahu jika Nana adalah anak orang kaya dan tentunya ia memiliki atm pribadi tanpa diketahui orangtuanya. Kemudian, ia membeli beberapa pakaian laki – laki. Ia mengganti pakaiannya dikamar ganti namun belum memakai wig karena ia takut jika sang pemilik toko heran. Ia juga berhasil untuk menyembunyikan dadanya dibalik baju tersebut karena korset yang dipakainya.

Nana membuang seragam sekolahnya ditempat sampah dan memasang wig berwarna coklat gelap. Ketika ia melihat dikaca, ia benar – benar terlihat seperti seorang laki – laki, walaupun sinar kecantikannya masih bersinar, “ Apakah aku setampan ini?” gumamnya dan tidak percaya pada wajahnya.

Sekarang, tujuannya adalah mencari asrama khusus laki – laki. Ia berjalan berkeliling mencari asrama. Sebuah poster tertempel disalah satu tiang. Bingo! Ternyata poster tentang asrama yang baru – baru ini dibangun. “ Changsoo Boys High School? Tidak ada salahnya untuk mencoba.”. Nana mencatat alamatnya kemudian kembali berjalan untuk mencari alamat asrama tersebut.

Akhirnya, sebuah gedung yang cukup besar tertangkap dimatanya dengan nama sekolah yang sama sesuai dengan alamat yang dicarinya.

.

.

“ Jadi, anda pindahan dari Jepang, ya?”

Kini, Nana dengan nama samaran Min Hyunsoo tersebut berada diruang kepala sekolah, “ Benar, Bu Kepala Sekolah. Saya memutuskan untuk kembali ke Korea Selatan karena merindukan Negara ini. Ayah dan Ibu saya terlalu sibuk sehingga saya memutuskan untuk merantau ke Negara asal saya.” Ujar Hyunsoo dengan skenarionya.

“ Oh, begitu. Kalau anda sudah dapat membayar uang sekolah serta uang seragam, hari ini anda sudah dapat untuk tinggal di asrama ini.” Ujar Kepala Sekolah sambil tersenyum.

Hyunsoo meletakkan amplop putih dengan beberapa lembar won dengan jumlah nominal yang besar, “ Saya sudah mempersiapkannya semua, Bu.”

“ Baiklah. Anda cukup beruntung mengingat hanya satu kamar asrama yang kosong. Diruangan nomor 423, anda akan memiliki teman sekamar, Lee Jongsuk.”

.

.

Kini, Hyunsoo menatap pintu kamar tersebut, “ 423. Benar, ini ruangannya.” Gumamnya. Ia memutarkan kuncinya, lalu pintu tersebut terbuka. Dia mengintip untuk memastikan adanya teman sekamar yang dikatakan Kepala Sekolah tadi, “ Tidak ada orang ternyata.” Gumamnya meletakkan tasnya dilantai. Disini ruangannya besar. Terlihat ada satu ruangan dapur dan kamar mandi yang tidak terlalu besar. Namun cukup berantakan. Apakah pemilik kamar ini terlalu sibuk sehingga tidak dapat membersihkan kamarnya yang seperti kapal pecah ini?.

Hyunsoo melihat salah satu foto yang menampakkan lima orang sekaligus. Hyunsoo cukup bingung yang mana si Lee Jongsuk itu. Semuanya terlihat tampan, kecuali lelaki dengan senyum dingin serta bibir tebal itu dipojok. Hyunsoo terlihat berpikir, “ Kenapa aku merasa laki – laki dipojok itu mirip denganku? Ah, sudahlah! Aku akan membersihkan tempat ini.” Ucap Hyunsoo.

Setelah kamarnya dengan Lee Jongsuk, seseorang yang belum ia kenali wajahnya itu sudah bersih, ia membaringkan tubuhnya dikasur barunya, “ Selamat tinggal Nana, selamat datang Min Hyunsoo!” gumamnya, lalu ia memejamkan matanya sampai terlelap.

***

Lelaki itu keluar dari kolam renang lalu mengambil handuk ditempat duduk. In-guk menghampirinya yang sudah bersiap mandi dan mengenakan pakaian santai, “ Ini sudah malam, Jongsuk. Kau tidak pulang? Lihat jam.” Ujarnya.

Jongsuk mengelap rambutnya yang basah, “ Iya. Aku mandi dulu, baru pulang. Lagipula aku harus berlatih keras untuk kompetisi dua bulan kedepan.” Tukasnya mengambil tasnya menuju kekamar mandi. “ Baiklah, kalau begitu aku duluan. Sampai jumpa dua hari lagi.”

.

.

Jongsuk yang kini tengah sibuk berkutik pada ponselnya melangkah pada kamar 423. Ia membuka kunci pintu dan masuk kedalam. Namun, ia sedikit merasa ada kejanggalan karena tempat tidur yang kosong itu kini seperti ada orang. “ Dia penyusup?” gumam Jongsuk.

Jongsuk melangkah hati – hati meletakkan tasnya lalu mengambil bantal guling dikasurnya. Dan dengan perlahan, ia menghampiri si ‘penyusup’ dan bersiap – siap untuk menghabisinya.

BUG!

“ Beraninya kau masuk, penyusup!” kesal Jongsuk memukul penyusup itu dengan bantal guling. Si penyusup terlihat tersakiti dan terbangun, “ Siapa yang memukulku?!” kesalnya dan bangun.

Kini, keduanya hanya termenung melihat satu sama lain, “ Kau siapa?” tanya Jongsuk menunjuk penyusup dihadapannya, “ Kau siapa?” dia malah balik bertanya. “ Aku Lee Jongsuk, pemilik kamar ini.” Jawab Jongsuk.

“ Kau Lee Jongsuk? Oh, maaf. Aku Min Hyunsoo. Murid baru dari Jepang. Maaf tidak memberitahumu, Jongsuk.” Ucap Hyunsoo meminta maaf. “ Murid baru? Kenapa Kepala Sekolah tidak memberitahuku sebelumnya?” gumam Jongsuk menatap yang lain.

“ Aku baru masuk kekamar ini pukul empat sore tadi. Jadi, Kepala Sekolah bilang kau belum pulang.” Pungkas Hyunsoo. Jongsuk melihat kamar ini. Terlihat sangat rapi. “ Kau membersihkannya, Hyunsoo?” tanya Jongsuk menatapnya. “ Ya, seperti yang kau lihat sekarang. Saat aku datang, semuanya terlihat seperti kapal pecah.” Cerocos Hyunsoo.

“ Lagipula aku tidak ada waktu untuk beres – beres.” Kata Jongsuk. “ Jangan sok sibuk, Jongsuk. Lagipula, kau bukan presiden. Masa kau tidak bisa membersihkan kamarmu? Dasar jorok!”

“ Ya! Sampai kapan aku bisa tahan dengan teman sekamar seperti kau, Hyunsoo!”
***

Kali ini, Hyunsoo tidak bisa tidur. Padahal, jarum jam telah menunjuk ke angka duabelas malam. Hyunsoo melirik keranjang milik Jongsuk, sepertinya ia sudah tertidur lelap. “ Fiuh..” ia menghela nafas. Sebenarnya, ini kesalahan Jongsuk juga, kenapa ia membangunkannya?! Ugh, lelaki itu!

Perut Hyunsoo berbunyi, ia lupa jika ia belum makan dari tadi sore karena sibuk mengurus kamar ini. Ia melangkahkan kakinya kearah dapur. Memeriksa apakah bahan – bahan masih ada atau tidak, “ Apa?! Hanya mie instan?!”

Dengan berat hati, ia harus memasak makanan instan, walaupun ia tidak terlalu menyukainya. Disaat ia tengah memasak, seseorang datang dari belakang dengan mengucek matanya, “ Kau sedang masak apa, Hyunsoo?” tanya Jongsuk.

“ Aku lapar, Jongsuk. Maka dari itu aku masak.”

“ Makan malam – malam begini tidak bagus untuk pencernaan.”

“ Jadi, kau mau aku mati kelaparan dikamarmu? Kuyakini aku akan menggentayangimu setiap malam.”

Jongsuk menghela nafas kesal, “ Sejujurnya, aku juga lapar, Hyunsoo. Bisakah kau buat satu lagi?” tanyanya. “ Tidak! Buat sendiri. Kau ini manja sekali.” Keluh Hyunsoo.

“ Kau ini. Aku terlalu lelah berlatih tadi. Kau mau jika sangking lelahnya wajahku masuk kedalam panci?” tanya Jongsuk. “ Itu sih terserahmu, aku hanya mengikuti saja. Kalaupun memang iya wajahmu masuk kedalam panci, rumah sakit telah menyediakan ruang rawat untukmu.” Kata Hyunsoo meletakkan mienya didalam mangkuk lalu duduk dimeja makan. Dengan berat hati, Jongsuk harus memasak mie dibalik tubuhnya kini yang terasa remuk.

Hyunsoo mencuri – curi pandang kearah Jongsuk yang tengah memasak. Benar, ia terlihat sangat kelelahan. Hyunsoo yang merasa iba memutuskan untuk menghampirinya, “ Biarkan aku saja yang memasak, Jongsuk. Kau duduk saja disana.”

Jongsuk tersenyum tipis lalu duduk dikursi meja makan.

“ Jadi kau atlet renang?” tanya Hyunsoo sembari mentap Jongsuk yang kini menyantap mienya, “ Ya seperti itulah. Dan dua bulan lagi aku akan mengikuti pertandingan.” Jawab Jongsuk sibuk pada santapan dihadapannya ini.
“ Besok aku akan masuk sekolah hari pertama. Jongsuk, apakah sekolah ini memiliki fasilitas untuk badminton?” tanya Hyunsoo meneguk air minumnya. “ Tentu saja ada. Tapi, olahraga badminton tidak terlalu menonjol disekolah.” Ucap Jongsuk.

“ Aku menyukai badminton. Kurasa, aku akan mencobanya.”

Jongsuk hanya mengangguk mantap, lalu ia menatap Hyunsoo lagi. “ Hyunsoo, apakah hanya aku yang merasa wajah kita mirip?” perkataan Jongsuk membuat Hyunsoo tersedak saat meminum airnya.

“ Um, awalnya aku merasakan yang sama saat melihat fotomu bersama atlet lainnya.” Ucap Hyunsoo. “ Apakah kita saudara kembar?” iseng Jongsuk.

“ Kau kira aku sudi punya saudara kembar sepertimu?”

“ Ya, Min Hyunsoo!”

Dan sekarang, seorang Nana harus berperan sebagai laki – laki dengan nama samaran Min Hyunsoo. Menjaga ketat perahasiaannya dari seorang perempuan dan merupakan seorang buronan. Dan menjalani hidup sebagai seorang laki – laki, walaupun semakin lama, kebenaran akan mengungkap semuanya.
*To Be Continued*

NB : Annyeonghaseyo^^!

Author gila kembali hadir 😀 Btw, aku lagi kesengsem banget sama Lee Jongsuk hihi. Belum lagi, mereka kan emang mirip dari sononyo, walaupun gaada hubungan darah.

Comment juseyo, kuharap kalian readers yang bijaksana, bukan silent readers yang tidak menghargai penulisnya^^

Bububu, Qarenzapark<3

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s