The Past – Oneshot

url

Title : The Past | Author : Qarenzapark |
Main Cast : Xiao Luhan, Choi Sooyoung |
Genre : Romance, Sad, Hurt | Length :
Oneshot | Rating : Teen |
Poster : Ahn Yura @ Lovely Deer Fanfiction

*Qarenzapark © 2014*

“ Bahkan, aku lupa bagaimana caranya menangis..”

***

Wanita berusia sekitar 27 tahun tersebut membuat Luhan merasa tertarik. Dia cantik dan pintar, namun ia adalah wanita yang suka menyendiri dan dingin. Ia berusaha menjauhi semua. Ia terlihat tegar tanpa ada masalah, “ Luhan hyung? Kau melirik Ny. Choi lagi?”

Kai yang merupakan guru olahraga dan lebih muda empat tahun darinya memergoki Luhan yang kini melihat kegiatan Ny. Choi dari jauh, “ Memangnya kenapa? Kau tahu ‘kan jika aku memang melihat Ny. Choi menarik untukku.” Ucap Luhan masih melihat wanita itu yang kini tengah sibuk dengan raport kenaikan kelas para siswanya.

“ Kudengar, dia sudah menikah, hyung.”

Perkataan Kai membuat Luhan terkejut, “ Ny. Choi? Sudah menikah?”

Kai mulai membetulkan posisi duduknya,” Benar. Banyak guru yang sudah mengetahuinya. Bahkan aku juga terkejut jika kau tidak mengetahuinya, hyung.” Ujar Kai.

Luhan menatap Ny. Choi dihadapannya, “ Apakah aku masih punya harapan untuk memilikinya?”

***

Hari sudah larut malam, Sooyoung kini tengah bersiap – siap untuk pulang. Namun, si guru yang terkenal akan keimutannya yang menjabat sebagai guru matematika di SMU Gangwon kini tengah sibuk dengan terus menguap berulang – ulang. Entah kenapa, seperti biasanya Sooyoung hanya melalaikan sikap itu, namun Sooyoung ada niat untuk membantunya.

Berbeda dengan Luhan yang merasa aneh ketika terus diawasi oleh guru pujaan hatinya. Bayangkan saja, hari sudah larut malam dan hanya ada dia dan Sooyoung disini. Hatinya pun terus berdebar, “ Tuan Xi?”

“ Oh, a..ada apa Ny. Choi?” tanya Luhan gugup.

“ Kau terlihat lelah. Izinkan aku untuk ikut membantumu.” Ujar Sooyoung dengan nada dingin. “ Tidak perlu, Ny. Choi. Aku bisa melakukannya sendiri.” Tegas Luhan tersenyum.

“ Sebentar saja.” Ucapnya sekali lagi. “ Baiklah.”

.

.

“ Berapa umurmu, Tuan Xi?”

Sooyoung kini bertanya sambil menulis file – file milik Luhan. “ Jangan panggil ‘tuan’, Ny.Ch–“

“ Kau juga. Kau memanggilku dengan sebutan Ny. Choi.” Ucap Sooyoung menatap Luhan. Dan pandangan tersebut membuat jantung Luhan hampir lepas. “ Baiklah, kalau begitu panggil nama saja.” Singkat Luhan tersenyum.

“ Umurku 27 tahun.” Gumam Sooyoung. “ Aku juga. Hanya saja, kau lebih tua sebulan dariku.”

“ Jujur, aku malas berada didekatmu.” Perkataan Sooyoung membuat Luhan tersentak. Ia mulai kecewa. Ternyata, perasaannya tidak diterima Sooyoung, “ Kenapa, Sooyoung? Aku bau, menyebalkan, atau apa?”

“ Kau terlalu imut, sehingga jika aku berada disampingmu bisa – bisa aku terlihat sangat tua.” Keluh Sooyoung. Huft! Luhan, kau terlalu cepat berpikir. Maka dari itu, jangan jadi guru Matematika!

“ Tidak. Kau tidak terlihat tua. Kau sangat cantik.” Puji Luhan, dan tentunya ia masih sadar. “ Terimakasih.”

Setelah setengah jam, semua tugas Luhan telah selesai. Sooyoung kini melangkahkan kakinya ke pintu, “ Sooyoung?”

“ Ya?”

Luhan berjalan mendekati wanita itu, “ Aku tahu jika kau akan menunggu dihalte. Lebih baik kau pulang bersamaku saja.” Tawar Luhan.

“ Tak apa, Luhan. Rumahku jauh.” Singkat Sooyoung. ‘Justru itu yang aku mau, aku akan menjadi semakin lama bersamamu.”

“ Wanita sepertimu tidak boleh diluar malam – malam. Ayolah, hari ini saja.” Luhan terus memaksa.

“ Baiklah jika kau memaksa.”

***

Malam semakin larut, namun Luhan masih mengendarai motornya untuk mengantar Sooyoung. Luhan mencuri – curi pandang lewat kaca spion, Sooyoung terlihat lelah. Bahkan, matanya hampir tertutup.

BUG!

Kepala Sooyoung kini terhenti dipunggung Luhan. Luhan hanya tersenyum. Tangan kanan Sooyoung yang awalnya berada dijaketnya, Luhan menariknya agar terlingkar dipinggangnya, “ Semoga saja, suami Sooyoung tidak marah karena ini.”

.

.

“ Soo? Sooyoung?”

Ketika mendengar suara tersebut, Sooyoung akhirnya bangun. Ia baru sadar jika ia telah sampai dirumahnya. Sooyoung turun dari motor Luhan lalu tersenyum tipis, “ Terimakasih, Luhan. Maaf merepotkanmu.”

“ Tidak apa. Aku senang dapat mengantarmu.” Luhan terus tersenyum. “ O iya, suamimu tidak marah, ‘kan?”

Sooyoung terkejut mendengar perkataan Luhan, “ Mm, suamiku belum pulang. Jadi, kau sudah tahu jika aku sudah menikah?”

“ Sudah. Kai yang memberitahuku.”

“ Kau ingin mampir dulu?” tanya Sooyoung.

“ Tidak, terimakasih. Lebih baik, kau cepat istirahat.” Ucap Luhan.

“ Kalau begitu, aku masuk dulu. Selamat malam.”

Sooyoung melangkah setelaha Luhan tersenyum padanya. Luhan masih saja belum beranjak dari tempatnya. Ia masih setia melihat gerak – gerik Sooyoung yang masih melangkah menuju pintu. Saat Luhan hendak mengenakan helm-nya, sebuah gantungan kunci tidak berada jauh dari sepatunya. Luhan meraih gantungan kunci tersebut dan menatapnya perlahan. Gantungan kunci cukup unik serta dengan ukiran “S.Z”.

Awalnya, Luhan ingin mengembalikannya pada Sooyoung. Namun, Luhan melihat pintu sudah ditutup serta lampu kamar Sooyoung sudah padam, “ Lebih baik, besok saja.”

***

Hari ini, guru bahasa inggris tersebut tidak terlihat. Luhan memperhatikan meja guru tersebut kosong. Kemana wanita cantik itu? Kemana sosok anggun tersebut? Apakah ia sakit?

“ Jangan melamun, hyung!”

Kai mengejutkan Luhan, “ Kau ini! Aku hanya mengkhawatirkan keadaan Sooyoung.”

“ Ha? Sooyoung? Kau hanya memanggilnya dengan nama? Biasanya Ny. Choi.” Heran Kai.

“ Tadi malam, kami sepakat untuk tidak menggunakan kata formal tersebut.” Singkat Luhan.

“ Tadi malam? Hayo? Kalian bermesraan, ‘ya?” goda Kai.

“ Lihat, pikiranmu bercabang – cabang. Untung saja kau guru olahraga, bukan guru sains.” Keluh Luhan.

“ Sepertinya, aku harus menjenguknya nanti malam.” Batinnya.

***

08:43 p.m

Wanita itu baik – baik saja. Dia tidak sakit dan hal lainnya. Dia hanya ingin berdiam diri dirumah. Mengingat kenangan indah yang hadir dihidupnya. Dia berpikir, kapan memori itu diputar kembali? Ia rindu, sangat rindu.

Ting Tong..

“ Siapa yang datang malam – malam begini?” gumam Sooyoung. Daripada berpikir panjang, lebih baik ia membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata guru matematika tersebut, “ Selamat malam, Sooyoung. Maaf jika aku datang malam – malam begini.”

“ Oh, Luhan. Masuk dulu. Diluar dingin.” Saran Sooyoung. “ Terimakasih.”

Keduanya kini duduk disofa, “ Kenapa kau datang, Luhan?” tanya Sooyoung.

“ Kukira, kau sakit. Maka dari itu aku memutuskan untuk menjengukmu.”

“ Aku lupa memberitahu Kepala Sekolah karena aku tidak bisa datang. Tadi pagi, aku tidak enak badan.” Ucap Sooyoung, berbohong.

“ Betul dugaanku.” Singkat Luhan.

“ Kau mau apa? Teh, Kopi, atau apa?” tanya Sooyoung.

“ Teh saja.”

“ Tunggu disini sebentar, ‘ya.”

Sooyoung melangkah kedapur untuk membuatkan teh. Sedangkan Luhan memutar – mutar bola matanya mencari sebuah foto keluarga, “ Bukankah Sooyoung sudah menikah? Tapi, dimana foto keluarganya?”

Luhan kini berdiri, penasaran akan dimana letak foto keluarga Sooyoung. Dia sudah memeriksa semuanya, namun salah satu objek membuatnya penasaran. Sebuah kamar kecil dengan tulisan yang terpampang dipintunya, ‘DON’T ENTER’

Sangking penasarannya, Luhan mengabaikan larangan tersebut. Dia masuk kedalam kamar kecil tersebut. Alangkah takjubnya ketika ia melihat ratusan foto didalam sini. Luhan melihat sebuah foto dengan ukuran cukup besar. Itu Sooyoung, dan suami serta bidadari kecilnya.

Luhan terkejut ketika Sooyoung sudah berada disampingnya, “ Oh, Sooyoung. Maafkan aku berbuat lancang.” Luhan menunduk merasa bersalah.

Sooyoung tersenyum seraya melihat foto yang dilihat Luhan sebelumnya, “ Tidak apa. Lagipula aku juga salah kenapa membiarkan pintu ruangan ini terbuka.”

“ Mereka adalah keluargamu, ‘bukan?” tanya Luhan agak gugup.

“ Benar. Lelaki tampan itu adalah suamiku, Zhuyian. Dan itu gadis kecilku, Xiuying.” Ucap Sooyoung dengan airmata yang tertahan. “ Dimana mereka?” tanya Luhan ragu.

“ Jauh. Sangat jauh. Bahkan, aku tidak bisa mencapai mereka.” Singkat Sooyoung. Luhan mulai tidak mengerti, “ Maksudmu?”

“ Semua itu terjadi lima tahun lalu setelah pernikahanku dengan lelaki China, Zhuyian. Saat itu, Zhuyian sangat senang karena aku tengah mengandung anak keduanya. Esok paginya, Zhuyian mengajakku serta Xiuying untuk pergi ke pantai. Mereka terlihat senang, begitu juga aku. Namun, Xiuying yang awalnya berenang menjadi terbawa air laut yang menjauhi pantai. Suamiku berusaha menyelamatkannya, namun keduanya tenggelam dan meninggal ditempat. Sampai sekarang, aku tidak bisa melupakan kejadian itu. Mereka berharga melebihi emas, namun semuanya hilang.” Jelas Sooyoung dengan airmata yang telah terjatuh dipipinya. Ia mengambil salah satu foto Xiuying dan memberikannya pada Luhan, “ Dia cantik, ‘kan?”

“ Cantik. Seperti dirimu, Sooyoung.”

“ Aku tahu. Tapi, aku tidak bisa melihat kecantikan itu lagi. Sejak itu, aku selalu memikirkan mereka sampai stress. Dan stress itulah yang membuatku keguguran.” Kesal Sooyoung. Ternyata, dibalik ketegaran Sooyoung, ia memiliki kisah yang pahit tak terduga. Tidak seperti disekolah, ia terlihat anggun dan bersinar, “ Sooyoung, izinkan aku untuk memelukmu. Sekali saja.” Ucap Luhan.

Sooyoung memeluk Luhan erat, dan Luhan tak kalah erat. Dia tidak pernah merasa sedekat ini dengan Sooyoung sebelumnya, “ Aku tahu, ini sangat sakit untuk diingat. Tapi, kau tidak boleh terus jatuh seperti ini. Zhuyian dan Xiuying pasti sudah bahagia disana. Dan mereka lebih bahagia jika kau terus tersenyum dan mencintai mereka. Percayalah, mereka selalu ada disisimu, Sooyoung.” Ucap Luhan.

Suara Sooyoung terdengar samar – samar, “ Terimakasih, Luhan.”

Luhan melepaskan pelukannya, dan kini menatap manik mata Sooyoung, “ Bolehkah aku?” tanya Luhan. Sooyoung mengangguk dengan airmata yang masih setia berada dipipinya. Perlahan, Luhan mulai mendekatkan wajahnya pada Sooyoung, Sooyoung menunggu seraya menutup matanya. Bibir keduanya bertemu. Rasa hangat tersebut mulai tersalurkan. Luhan mulai melumat lembut bibir Sooyoung, dan Sooyoung membalasnya.

Mungkin, memang takdir Sooyoung harus menikah dengan seorang lelaki China lagi, dan Tuhan memberikannya Luhan. Luhan yang selama ini memperhatikannya, dan Sooyoung yang memang perlu diperhatikan. Mungkin, selama ini Sooyoung tidak bisa menangis karena terlalu berat sehingga ia lupa bagaimana caranya menangis.

Inilah hidup. Dimana, kita harus merasakan suka dan duka. Dimana, senyum, tawa, dan airmata akan tercipta. Dan disini, kita bisa belajar dari seorang Choi Sooyoung, yang memiliki sifat tegar dibalik kesedihan luar biasa yang dialaminya. Namun, Tuhan memberikannya lelaki tampan seperti Xiao Luhan. Semoga, kali ini hidup seorang Sooyoung akan berakhir dengan bahagia.

“ Semua ini terjadi, karena Tuhan merencanakan sesuatu yang indah dibaliknya – The Past.”

FIN

Haii haii^^

Aku comeback!

Setelah beberapa minggu bahkan bulan aku udah lama ga posting apa – apa dikarenakan sibuk ujian dan fanfic lain. Nah, fanfiction “ The Past “ ini terinspirasi dari salah satu film yang pernah ditayangkan channel Celestial Movies beberapa hari yang lalu. Hanya saja, alur yang aku ambil disaat kematian keluarganya Sooyoung dan film itu bikin aku belajar banget.

Diluar fanfic diatas, aku udah lama ga posting lanjutan I Choose To Love You –nya Sehun, Sulli, Sooyoung. Padahal, semua posternya udah siap T^T Aku sibuk dikarenakan harus aktif dibeberapa situs lain.

Okedeh, sekian yaa. Tunggu karyaku selanjutnya, dalam waktu dekat ini!

XOXO, Qarenzapark

Iklan

7 thoughts on “The Past – Oneshot

  1. febryza berkata:

    ah sooyoung-ah ternyats nasibmu menyedihkan sekali harus ditinggal sama suami dan anak untung sekarang udah ada luhan yg nemenin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s