[ BONUS ] Don’t Flirt Her

vintage_clock_by_yellowcandyfloss-d4vemni“ Don’t Flirt Her “

“ Apa? Jadi kamu menyukai Nia?! Anak eskul vokal itu, ‘kan?”
Hanin membulatkan kedua matanya ketika ia mengetahui Axel menyukai Nia yang merupakan gadis popular di sekolah. “ Ya. Memangnya kenapa?” Tanya Axel sembari mengemut permennya. Hanin menopang dagunya dengan kedua tangan, “ Kamu yakin? Kamu tahu ‘kan jika Nia salah satu murid popular di sekolah? Dia juga di incar oleh para lelaki. Sedangkan kamu–“
“ Jadi, kamu merendahkan aku karena aku hanya pemain sepak bola? Aku tahu jika aku tidak sepopular anak basket yang tinggi dan memiliki badan yang oke – oke.” Axel mengeluh dengan pernyataan Hanin. “ Bukan itu maksudku, Xel. Gadis seperti Nia pasti susah mengajaknya kencan. Lagipula, ini berurusan dengan hatinya, ‘kan?” terang Hanin.
“ Kamu ‘kan dekat tuh dengan Nia. Tolong aku, ‘ya?” pinta Axel. Hanin malah terkekeh, “ Aku takut jika kamu ditolak.” Ucap Hanin. “ Yah, kamu. Belum mencoba saja sudah menyerah. Jadi tidak semangat lagi.” Kesal Axel. Hanin tertawa seraya mencubit kedua pipi Axel gemas, “ Tentu saja. Aku akan melakukan apapun untuk sahabat jelekku ini.” Tukas Hanin.
“ Jelek – jelek aku sahabatmu juga, ‘kan? Dasar!”
***
Hanin tidak sengaja bertemu dengan Nia yang berada di taman sambil bernyanyi. Hanin memutuskan untuk menghampirinya dengan beberapa cemilan dan minuman menyejukkan, “ Nia? Kok kamu disini?” Tanya Hanin sambil mendudukkan dirinya. “ Oh, Hanin. Tidak ada. Aku malas berada di rumah. Lagipula–, eghh, tidak ada.” Nia memotong perkataannya. Dan Hanin dapat mencerna itu, “ Ayah ibumu bertengkar lagi, ‘ya?” Tanya Hanin. Nia hanya menjawabnya dengan senyuman, “ Aku tak akan lagi mengurusnya. Menjadi anak tunggal itu sangat tidak menyenangkan.” Terang Nia.
“ ‘Kan kamu punya aku.” Hanin menenangkan Nia. “ Tapi, kamu tidak bisa menemaniku secara terus – terusan ‘kan? Kamu punya keluarga sendiri, Hanin.” Nada bicara Nia seakan mengeluh. Tiba – tiba, hujan datang menyerbu mereka, “ Aduh, rumahku jauh!” kesal Hanin. Dan disaat itulah, Nia menawarkan bantuan, “ Ayo kerumahku saja. Sudah lama kamu tidak berkunjung ke rumahku.” Ajak Nia.
.
.
Kamar Nia adalah kamar paling menakjubkan menurut Hanin. Kamarnya cukup besar dan bahkan memiliki fasilitas musik, ukuran menengah seperti gitar, biola dan lainnya. Hanin menyusul Nia yang berada di sofa, “ Kamarmu belum berubah juga.” Terang Hanin memujinya. Nia hanya dapat tersenyum.
“ Nia!”
Teriakan dari lantai bawah membuat Nia sedikit terkejut, “ Hanin, kamu tunggu disini saja. Aku akan ke bawah sebentar.” Ucap Nia lalu pergi dari hadapan Hanin. Hanin mengelilingi kamar Nia takjub. Kadang, ia memetik senar gitar asal. Dan pandangannya teralih pada sebuah secarik surat yang terletak pada meja belajar. Jujur, ini memang sangat tidak sopan. Namun, Hanin merasa hatinya harus mengetahui isinya. Intinya, setelah membaca ini, Hanin harus meminta maaf pada Nia karena memeriksa yang seharusnya tidak diperiksanya.
Ia membuka surat itu. Surat Kesehatan dari Rumah Sakit. Awalnya, hanya tercantum nama serta profil Nia. Namun, matanya membulat ketika sederet kalimat membuatnya tidak menyangka. Monster itu menyerang tubuh Nia. Dibalik sifat cerianya, selain problem orangtuanya, ia juga memiliki penderitaan yang lebih parah. Penderita Leukemia.
“ Hanin?”
Suara itu mengejutkan Hanin. Nia telah berada di pintu seraya menatapnya. “ Aku tidak bermaksud begitu, Nia.” Hanin merasa bersalah. Ia menyembunyikan surat itu dan terus menunduk. Nia mendekati Hanin dan memohon, “ Hanin, kumohon jaga rahasia ini. Kemarin, aku dan Paman pergi ke rumah sakit dan aku mengetahui kondisi ku yang sebenarnya. Kuharap, kamu dapat menjaganya. Orangtuaku tidak tahu kondisiku.” Pinta Nia.
Hanin memeluk Nia erat, “ Kamu harus sembuh, Nia. Harus! Aku tidak ingin kehilangan sahabatku!” ucap Hanin. Tangan kanannya bergetar membuat surat yang dipegangnya tadi terlepas. Nia memeluk tak kalah erat, “ Aku pasti akan berjuang, Hanin.”
***
Hanin duduk termenung tanpa ingin menikmati sekotak susu coklat favoritnya. Dari semalam, ia terus memikirkan kondisi Nia yang hampir tidak dapat dipercayai. Lalu, Axel datang sambil membawa nampan berisi makanan, “ Pagi, jelek!” sapanya seraya tertawa. Hanin tersadar dari lamunannya dan kini menatap Axel serius, “ Axel?” panggilnya.
“ Ya, ada apa, Hanin?” Tanya Axel setelah meneguk airnya.
“ Tentang kamu yang ingin mengejar Nia..kurasa kamu harus berpikir dua kali.” Ungkapan Hanin membuat Axel sedikit tersedak. “ Kenapa? Karena aku hanya pemain sepakbola?” lagi – lagi, pertanyaan itu selalu ditanya Axel. “ Bukan, Xel. Kurasa, ia ingin mengosongkan hatinya untuk masalah – masalah yang dihadapinya. Dan sayangnya, aku tak pernah bisa untuk mengungkapkannya.” Jelas Hanin.
“ Katakan saja. Aku pasti menerimanya, kok.” Axel mendesak. Namun, Hanin menggeleng, “ Janji tetaplah janji. Kuharap kamu mengerti.” Singkat Hanin. Axel hanya mengangguk santai, “ Bagaimana? Apa kau sudah berkata padanya tentang aku?” Tanya Axel. Hanin meminum susu coklatnya, “ Sudah. Dia hanya menanggapinya dengan senyuman.” Singkat Hanin. Axel tampak tersenyum, “ Kurasa, ia menyukaiku juga.” Axel percaya diri. Tapi, ini bukan lelucon biasa. Ini lebih serius. Hanin tidak ingin membuat Axel kecewa di masa mendatang, “ Tapi, kumohon jangan berpacaran dulu dengannya.” Pinta Hanin.
“ Kamu ini kenapa, sih? Kenapa kamu berusaha menjauhkan Nia dariku?” kesal Axel. “ Memberitahuku tentang masalah Nia saja kamu tidak mau.” Sambungnya. Hanin menghela nafas malas, “ Aku tidak ingin mengecewakan Nia nantinya. Kamu tahu juga, aku sudah bersahabat dengan Nia sejak kecil. Aku tidak ingin merusak persahabatan itu.” Jelas Hanin.
“ Oh, apakah kamu cemburu? Kamu temanku, Hanin!” Axel menekan kalimatnya. Hanin kini berdiri, “ Aku tidak pernah cemburu terhadapmu. Ini kulakukan juga untukmu. Aku member nasehat untukmu. Aku pergi!” Hanin melangkah kesal meninggalkan Axel yang kini mematung. Dan hati Axel juga merasa bersalah.
***
Seminggu ini, Hanin tidak lagi berhubungan dengan Axel. Ia berusaha menjauhi Axel karena kejadian itu. Namun, pagi ini Hanin malah mendengar kabar tentang sahabatnya itu.
“ Hei, apakah kalian dengar jika senior Nia berpacaran dengan senior Axel dari sepakbola?”
“ Senior Axel memang bukan murid popular, tapi ia mengalahkan ketampanan senior Kevin.”
“ Aku yakin, senior Axel hanya memanfaatkan senior Nia hanya untuk mendapat ketenaran.”
“ Benar. Itu sangat murahan.”
Gosip demi gosip menyebar membuat telinga Hanin sakit. Ini dampaknya setelah Axel dan Nia berpacaran. Dipikir – pikir, Axel cukup berani mengungkapkan perasaannya pada gadis sepopuler Nia. Pandangan Hanin terarah pada Axel dan Nia yang kini berada di kantin berdua. Hanin menghampiri mereka, dan bukan bermaksud menghancurkan makan siang mereka.
“ Axel, aku butuh bicara denganmu.” Singkat Hanin. Axel menatap Hanin malas, “ Apakah kamu tidak lihat jika aku sedang makan?” Tanya Axel.” Aku tahu kamu sedang makan. Tapi, waktu lima menit dan kamu tidak makan tidak membuatmu mati, ‘kan?” Tanya Hanin. Nia hanya menonton. Axel terpaksa mengikuti kemauan Hanin, “ Nia, tunggu disini. Aku ingin bicara dengannya.”
Axel mengajak Hanin ke tempat yang sedikit jauh, “ Kenapa kamu menghancurkan makan siangku dengan Nia?!” kesal Axel. Hanin ikut emosi, “ Apakah kamu tidak dengar jika para murid – murid menggosipimu yang aneh – aneh? Sudah berapa kali ku bilang jangan dekati Nia dulu.” Hanin ikut menjawab. “ Aku tidak peduli dengan mereka. Dan kenapa kamu peduli terhadapku? Kamu bukan lagi sahabatku!” emosi Axel memuncak. “ Kamu cemburu, ‘kan?” dan perkataan terakhir Axel membuat Hanin kini benar – benar marah, “ Berapa kali aku katakan jika aku tidak cemburu? Aku sahabatmu, aku tidak pernah menyukaimu lebih. Terserah apa yang mau kamu lakukan, aku tidak akan pernah mengurusimu lagi!” Hanin melangkah pergi meninggalkan Axel yang mematung.
“ Nia!!!!”
Namun, sebuah teriakan yang memekakkan telinga membuat Hanin terperanjat dan menoleh. Ia berlari ke asal suara. Ia terkejut melihat Nia yang kini tak sadar dipangkuan Axel dan hidungnya mengeluarkan darah. Hanin menyuruh beberapa orang untuk memanggil ambulan, “ Tolong telepon ambulan segera. Siapapun!”
.
.
Gadis itu telah membuka matanya, namun bukan sosok Axel yang berada dihadapannya. Melainkan Hanin yang ternyata selalu menemaninya bahkan tidak tidur untuk menjadi orang yang pertama melihat mata Nia terbuka, “ Hanin?” suara sang gadis melemah. Hanin menggenggam tangannya lemah, “ Aku akan memanggil dokter dan Axel. Tunggulah!” Hanin mulai melangkah, namun Nia meraih tangannya, “ Tak perlu, Hanin. Aku hanya ingin kamu yang berada disini.” Ucap Nia. Hanin mengeluarkan air matanya.
“ Nia, tepati janjimu untuk sembuh. Aku ingin kita bersama lagi. Aku ingin melihatmu makan siang bersama Axel seperti biasanya.” Ucap Hanin terisak. “ Aku sudah berusaha. Namun, tidak bisa. Dan ini..” Nia memberikan buku diary nya pada Hanin membuat Hanin heran, “ Untuk apa, Nia? Kenapa kau memberikannya?” Tanya Hanin.
“ Berikan ini ke Axel. Aku ingin ia mengetahui semuanya. Dan berikan setelah aku sudah tiada lagi di sampingmu dan dirinya. Katakan jika aku mencintainya. Katakan jika aku hanya untuknya. Katakan jika aku tak pernah meninggalkannya.” Kini, air mata itu keluar dengan derasnya dari kedua pelupuk mata indahnya. Keduanya menangis seraya memeluk. Nia semakin lemah dan Hanin semakin rapuh. Jika Axel mengetahui ini, entah apa yang terjadi.
“ Hanin, terimakasih telah menjadi Tinkerbell – ku selama ini. Kamu mempertemukan seorang Wendy dengan Peterpan nya. Kamu adalah peri terbaik yang selalu diceritakan oleh ibuku. Kamu tidak akan pernah aku lupakan, Hanin.” Suara Nia makin melemah. Setelah penjelasan panjang itu, matanya mulai tertutup tenang. Suara mengerikan itu memekakkan telinga Hanin. Ia menangis sejadi – jadinya. Lututnya terasa lemas. Ia terjatuh dalam keadaan yang sangat rapuh.
Para dokter memenuhi ruangan. Dan Axel berdiri di pintu. Matanya sembab. Tubuhnya naik turun mengatur nafasnya. Hanin memutuskan untuk bangkit dan keluar dari ruangan itu. Sebelum keluar, ia memandang sekilas Nia yang tersenyum yang kini telah ditutupi selimutnya menandakan ia telah bahagia dengan malaikat – malaikat yang selalu berada disisinya. Ketika dirinya telah mencapai pintu, Axel bergumam tanpa menatapnya, “ Kenapa kamu tak pernah bilang jika ia menderita ini?” ucap Axel berusaha tegar.
Hanin mengatur nafasnya dengan air mata yang masih mengalir di kedua pipinya, “ Karena kamu tidak pernah mau mendengarkanku. Semua yang kulakukan untukmu agar membuatmu tidak kecewa. Dan ini, dari Nia..” Hanin memberikan diary itu pada Axel. Hanin melangkah pergi, meninggalkan Axel yang kini berduka seraya memeluk diary milik gadis yang dicintainya.
***
Suasana mendung menyelimuti pemakaman Nia. Si gadis cantik yang kini tak bisa dilihat lagi karena ia sudah tenang di alam yang paling indah diciptakan Tuhan. Axel tidak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Dan Hanin menemukannya yang duduk di taman tidak berada jauh dari pemakaman.
“ Kamu sudah membacanya?” Tanya Hanin duduk sedikit jauh dari Axel. Axel menunduk, “ Sudah. Isinya perih.” Singkatnya. Hanin tersenyum pahit lalu memandang Axel, “ Lusa, aku berangkat ke Moskow.” Ungkapan Hanin membuat Axel menatapnya, “ Kenapa? Kamu berusaha menghindariku? Aku tidak punya siapa – siapa sekarang.” Tanya Axel mendapat gelengan dari Hanin, “ Tidak. Selepas SMA ini, aku kuliah dan segera menikah dengan calon tunanganku, Nino. Ia bekerja di Moskow dan aku harus ikut.” Jelas Hanin.
“ Kamu akan kembali, ‘kan?” Tanya Axel. “ Dalam jangka waktu 2 – 3 tahun.” Singkat Hanin. Axel menghela nafas, “ Selamat Berbahagia, Hanin.” Ucap Axel. Hanin tersenyum. Ia berdiri dan kini akan pergi setelah berpamitan dengan Axel, “ Jaga dirimu baik – baik disini.”
Axel hanya menjawabnya dengan anggukan. Hanin melangkah pergi. Meninggalkan Axel dengan ribuan rasa kecewa, sedih, kehilangan, dan lainnya. Kini, ia harus belajar bangkit dan tidak terpuruk dalam dukanya.
***
6 Years Later..
“ Ibu, kita akan kemana?” Tanya gadis kecil berusia 6 tahunan yang menggenggam tangan ibunya erat. “ Ke tempat teman ibu yang paling cantik.” Jawab ibunya sembari tersenyum. Ini sudah 6 tahun ia tidak kembali ke Jakarta untuk mengunjungi Nia. Setelah sampai di makam Nia, ia memberikan sebuket bunga didekat batu nisannya. “ Namanya Nia, bu? Kok sama sepertiku?” Tanya Nia. Ibunya berjongkok mencubit pipinya, “ Karena kamu sama cantiknya dengan Tante Nia.”
“ Hanin?”
Sebuah suara membuat Hanin menoleh. Ia sangat mengenali suara itu serta tubuh itu. Axel. Rambutnya kini sudah berubah. Tangannya membawa sebuket bunga baby’s breath. “ Axel? Sudah lama tak berjumpa.” Hanin membuka topik pembicaraan. Axel meletakkan sebuket bunga bawaannya di batu nisan, “ Ini bahkan sudah 6 tahun.” Singkatnya seraya tersenyum.
“ Maafkan aku karena tidak menepati janji itu. Perkenalkan, putriku. Namanya Nia.” Hanin memperkenalkan putrinya pada Axel. “ Nia?” Tanya Axel. “ Iya, om. Namaku Nia. Salam kenal!” Nia terlihat antusias. Axel tersenyum cerah. “ Jangankan namanya, wajahnya saja membuatku teringat akan Nia.” Puji Axel mendapat senyuman dari Hanin. Si imut Nia melepaskan pegangannya pada ibunya. Kini, ia berada disamping makam dan menyiapkan sesuatu.
“ Tante Nia, Ibu sering bilang jika Tante adalah teman baik seumur hidupnya. Tante adalah orang yang kuat. Aku ingin seperti Tante. Dan sebagai hadiahnya, aku akan menyanyikan lagu. Maaf jika lagunya jelek.” Terang Nia menyiapkan suaranya. Ia memang suka menyanyi sejak kecil.

Under a trillion stars
Dibawah triliunan bintang
We danced on top of cars
Kita menari di atas mobil – mobil
Took pictures of the state
Mengambil gambar Negara bagian
So far from where we are
Yang begitu jauh dari tempat kita berada
They made me think of you
Gambar – gambar itu membuatku memikirkanmu
They made me think of you
Gambar – gambar itu membuatku memikirkanmu
“Birdy – Wings “

FIN

Terinspirasi dari Film Thailand , “ The Last Moment “ pada tahun 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s