[ Oneshot ] It’s About Oppa

qarenzapark-its-about-oppa-copy

Qarenzapark presented.

“ It’s About Oppa “
“ Karena aku dilahirkan untuk membuatmu nyaman dipelukanku..”
***

Karen tidak merasa bahagia akan kehadiran sosok kakak laki – laki di keluarganya. Chanyeol selalu merendahkan Karen karena ia pintar di akademik yang selalu dibanggakan ayah dan ibunya. Sedangkan Karen hanyalah seorang pelari cepat, namun tak pernah menang. Ia tidak bisa menyalahkan takdir, namun ia belum siap menghadapinya.

Perbedaan usia yang cukup jauh juga membuat mereka mengemukakan pendapat masing – masing. Tak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri. Hari minggu adalah hari istirahat. Ayah dan ibu memutuskan untuk pergi kerumah nenek, sedangkan Karen dan Chanyeol tinggal dirumah.

Pagi ini, Karen sudah siap untuk latihan berlari di lapangan sekolah, namun Chanyeol mencegatnya, “ Kau mau kemana pagi – pagi begini?” Tanya Chanyeol sedikit tajam. Karen membuang wajahnya, “ Bukan urusanmu.” Singkatnya dan kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu. Lalu, ia menyadari jika pintu itu dikunci. Chanyeol, pasti Chanyeol mengerjainya!

“ Ya, Oppa! Berikan kuncinya!” pekiknya pada Chanyeol. Kakak laki – lakinya itu melipat tangan di dada, “ Kau ingin kabur dari tugasmu, ‘kan? Tidak biasanya kau latihan berlari secepat ini. Kau perempuan, jangan jadi pemalas!” keluh Chanyeol. Karen hanya bisa menghela nafas berat, hatinya mengucapkan ribuan sumpah serapah untuk kakak laki – lakinya itu. “Ayo, kerjakan!”

Karen melangkahkan kakinya ke dapur, mengenakan celemek dan mulai mencuci piring.Dan ia bergumam, “ Awas saja kau, lain kali kubalas!”

***
Hosh..hosh..

Karen berhenti setelah mengelilingi lapangan sebanyak 5 kali. Ia mengatur nafasnya, lalu Hyemi menghampirinya, “ Kalau sudah lelah, jangan dipaksa.” Pesannya. Karen hanya tersenyum, “ Aku tidak lelah, kok. Pengaturan nafas juga sangat dibutuhkan.” Ucapnya. Hyemi ikut tersenyum, “ Kalau begitu, ayo berlatih lagi.” Ajak Hyemi. Keduanya terus berlari. Kompetisi berlari ini akan diperjuangkan Karen, ia harus menang. Membuat kedua orangtuanya bangga dan ia dapat selalu menjelek – jelekkan Chanyeol yang tidak dapat memenangkan lomba seperti dirinya, “ Park Karen, kau harus menang, harus!”
.
.

“ Sialan, bagaimana bisa patah!” Chanyeol mengeluh ketika pensil yang digunakannya terbelah menjadi dua, “ Mungkin pensil ini sangat murah.” Singkatnya. Persediaan pensilnya sudah habis. Chanyeol mulai bingung. Tapi, Karen pasti memilikinya. Selama orangnya belum datang, ia dapat mengambil pensilnya secara diam – diam.
Kamar Karen bernuansa biru laut dan sangat rapi. Aroma parfum tercium dimana – mana. Bukan! Sekarang bukan waktunya untuk bersantai di ruangan ini, tapi mencari pensil. Matanya mengarah pada pensil yang berada di meja belajar Karen. Saat mengambil pensil itu, tangannya tak sengaja mengenai miniature gitar berwarna biru glitter dan..pecah.

“ Oh, tidak! Ini pasti kesukaan Karen. Bisa mati aku jika ketahuan!” panik Chanyeol. Ia mulai membersihkan serpihan – serpihan kaca miniature itu sampai bersih dan memasukkannya kedalam plastik kecil milik Karen, “ Kalau aku letak dikamarnya, aku pasti ketahuan. Lebih baik kusimpan saja dikamarku.” Ucapnya. Dengan perlahan, ia meninggalkan kamar Karen tanpa jejak yang tertinggal.

***

“ Karen! Apa kabar!”
Mia, teman baik Karen yang pindah ke Jepang meneleponnya malam ini, “ Tentu saja aku baik – baik saja!” Karen ikut senang.

“ Aku rindu bermain bersamamu..”

“ Aku juga, Mia. Kapan kembali ke Seoul?”

“ Belum dapat dipastikan, Karen. Eh, bagaimana dengan miniature kecil itu? Apakah kau masih menyimpannya?”
Karen tersenyum sambil berlari kearah meja belajarnya, “ Tentu saja aku masih menyimpannya, Mia. Tunggu sebentar, eh? Dimana miniature itu?”

Karen terperanjat ketika mengetahui jika miniature kecil itu tidak berada ditempatnya. Ia terpaksa memutuskan sambungan telepon hanya untuk mencari miniature gitar pemberian Mia, “ Tidak mungkin hilang!” kecewa Karen. Dan satu nama yang dicurigai melintas di otaknya, “ Chanyeol Oppa!”
Ia berlari menuju kamar Chanyeol yang berada dilantai bawah. Ia membuka pintu dan menutupnya dengan keras, bahkan Chanyeol terkejut dari duduknya, “ Apa yang kau lakukan? Kenapa kau marah – marah?” heran Chanyeol. Karen menatap tajam Chanyeol, “ Berikan aku miniature – nya!” paksa Karen.

“ A-apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti.” Chanyeol berdusta. Karen memutuskan untuk mencarinya sendiri. Dan pada meja belajar Chanyeol, ia menemukan serpihan miniaturenya. Dibalik mata indahnya, terdapat sebulir air mata yang siap turun ke pipi mulusnya. Chanyeol berdiri dengan maksud mengakui kesalahannya, “ K-Karen..aku tidak bermaksud untuk menghancurkannya. Hanya saja-“ perkataan Chanyeol terpotong karena Karen sudah menyela.

“ Kenapa kau selalu menganggu kehidupanku! Miniature ini kenangan dari Mia. Bisakah kau menggantinya?! Aku benci kau, aku benci kau!” Karen menangis sambil meninggalkan Chanyeol yang kini diam mematung. Dan kini ia sadar, ini memang kesalahannya. Tidak seperti biasanya, ia pasti menyangkal permasalahan. Apakah Chanyeol tak bisa melawan karena melihat air mata itu?

***

Pagi ini, ayah, ibu, dan Chanyeol telah menunggu di meja makan untuk sarapan. Karen belum juga memperlihatkan dirinya. Chanyeol juga berbeda hari ini. Ia terlihat murung, “ Chanyeol, apakah kamu sakit?” Tanya ayah. “ Oh, tidak, ayah. Hanya saja aku sedang memikirkan sesuatu disekolah.” Lagi – lagi, Chanyeol berdusta. Ayah hanya menanggapi dengan sebuah senyuman. Dan sosok yang ditunggu – tunggu akhirnya datang. Karen mengenakan seragam serta rambut coklatnya yang diikat kuncir kuda.

“ Karen, ayo sarapan!” ucap ibu. Karen tidak duduk, melainkan tetap berdiri dan mengoles roti dengan selai stoberi, “ Aku makan di jalan saja, bu. Terimakasih atas sarapannya.” Karen membungkuk dan melesat pergi. “ Karen?” Chanyeol memanggilnya, namun Karen menghiraukannya.

“ Apa yang terjadi pada Karen, Chanyeol?” Tanya ibu. Chanyeol menunduk, “ Aku menghancurkan kenang – kenangannya dan ia marah besar, bu.” Jelas Chanyeol. Ayah melipat tangannya didada, “ Sebagai kakak laki – laki, kau harus bersikap tanggung jawab pada adikmu. Katakan yang sebenar – benarnya. Kau pasti berbohong dan itulah yang membuatnya marah.” Ucap Ayah yang diselingi anggukan ibu. “ Aku mengerti, ayah.”

***

Tidak seperti biasanya, Chanyeol menunggu Karen di gerbang sekolah. Ia ingin mengucapkan permintaan maafnya atas miniature itu. Bel telah berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai. Dan Chanyeol dapat menebak Karen, “ Karen!” pekiknya membuat sang nama menoleh. Bukannya menunggu Chanyeol, Karen malah mempercepat jalannya, “ Karen, berbaliklah!” namun ia masih belum menatap Chanyeol. Karen menerima telepon dari temannya. Ia menyeberang tanpa menyadari sebuah mobil sedan berkecepatan tinggi tengah mengarah padanya.

“ Karen!”

“ BRAKKK! “

Karen merasa tubuhnya terpelanting kedepan. Kepalanya mengenai trotoar jalan. Dan ia berusaha melihat semuanya. Kepalanya amat berat, matanya buram, dan tiba – tiba ia merasa tidak kuat dan penglihatannya gelap tanpa seberkas cahaya apapun.

***

Setelah beberapa jam, akhirnya gadis itu membuka matanya. Kepalanya masih amat berat. Ia melihat sekeliling dan menyadari jika sekarang ia berada di rumah sakit. Kepalanya terbalut perban. Lalu, datang seorang suster seraya membawa nampan berisi obat – obatan yang sangat dibencinya itu.
“ Suster, apa yang terjadi pada saya?” tanyanya. “ Anda mengalami kecelakaan yang membuat kepala anda terbentur. Tuhan masih memberikan anda keajaiban karena anda tidak mengalami amnesia.” Tuturnya seraya meletakkan nampan berisi obat – obat di meja.
Lalu, sosok Chanyeol terlintas di kepalanya. Apa yang terjadi saat di sekolah tadi?. “ Suster, apakah anda mengetahui dimana ruang rawat Tn. Chanyeol?” Tanya Karen. “ Anda harus berisitirahat dan meminum obat – obat ini.” Ucap Suster. Karen menggenggam tangan suster tersebut, “ Kumohon, saya ingin melihat keadaannya.” Rengeknya. Suster menghela nafas, “ Tunggulah disini, saya akan mengambil kursi roda.”
.
.
Suster berhenti pada salah satu ruangan dengan nomor 235, “ Ini ruangannya. Apakah anda ingin masuk?” Tanya Suster. “ Sebenarnya, apa yang terjadi pada Chanyeol,Suster?” tanyanya membuat Suster tersebut diam. Namun, tatapan itu membuat sang suster harus menjawabnya, “ Anda belum bisa mengetahuinya sekarang. Maafkan saya.” Sopan sang suster.
“ Kalau begitu, tinggalkan saya sendiri disini.” Ucap Karen. “ Tak apa saya tinggalkan?” Tanya suster. Karen mengangguk. Suster tersebut melangkah pergi dengan tatapan khawatir dengan gadis itu. Karen tidak ingin membuka pintu itu. Ia tidak siap dengan apa yang terjadi pada Chanyeol. Di penglihatannya, sudah ada ayah dan ibu yang mengikuti seorang dokter ke sebuah ruangan. Karen mengikutinya secara diam – diam, mungkin ia bisa mendapat sedikit informasi.
.
.

“ Jadi, dok? Apa yang terjadi pada putra saya?” Tanya ibu sedikit khawatir. Sang dokter memperbaiki kacamatanya sambil melihat dokumen yang sudah berada ditangannya, “ Chanyeol mengalami kekeruhan kornea yang dapat membuatnya buta seumur hidup, kecuali jika ia mendapatkan donor mata dari seorang pendonor.” Penjelasan dari dokter membuat ibu terkejut sekaligus sedih. Ayah berusaha menenangkan ibu. “ Jadi, membutuhkan cangkok mata?” Tanya ayah.

“ Tidak untuk sekarang, pak. Chanyeol masih dapat melihat sekarang. Namun, suatu saat nanti dengan waktu yang tak pasti. Dan intinya, Chanyeol akan terkejut ketika suatu hari nanti ia tidak dapat melihat dunia.” Penjelasan kedua dari dokter sukses membuat ibu menangis dipelukan ayah.
Dan dari luar ruangan, gadis itu mengetahui apa yang terjadi dengan Chanyeol. Chanyeol akan buta karenanya. Jika saja kebutaannya dari sekarang, mungkin Chanyeol masih bisa menerimanya. Tapi, pada suatu hari nanti? Karen tak dapat membayangkannya ketika Chanyeol menangis seharian dengan apa yang dialaminya. Karen memutar roda kursinya agar menjauh dari ruangannya. Matanya basah dan hatinya terasa hancur. Bagaimana caranya agar ia dapat menghadapi Chanyeol sekarang setelah apa yang dilakukannya?
***

Ini sudah seminggu setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dan Chanyeol sudah mengetahui semuanya. Ia marah dan tak bisa menerimanya. Ia vakum dari kegiatan kuliah dan cita – citanya dapat terancam sekarang. Karen masih belum berani menghadapi Chanyeol. Ia terlalu takut. Takut untuk melihat penderitaan yang dialami Chanyeol. Namun, di detik ini ia memberanikan dirinya untuk meminta maaf.

“ Tok..tok. Oppa? Kau didalam?” tanyanya berhati – hati. Tidak ada jawaban. Karen mengetuknya sekali lagi, “ Oppa, apakah kau sedang tidur?” Tanya Karen. Dan ia mendengar derapan langkah kaki, “ Menjauhlah dariku, Karen! “ suara itu berhasil membuat hatinya tercabik – cabik.

“ Oppa, kumohon buka pintunya! Aku akan meminta maaf padamu!” ucap Karen memohon. Karen masih terus menggedor – gedor pintu itu. “ Oppa! Kumohon!” pekiknya dengan air mata yang meleleh disudut mata. “ Apa yang mau kau maafkan untukku? Sudah puas dengan penderitaanku sekarang? Kau bisa tertawa dan mengolok – olokku sepuasmu! Pergilah, pergi!”

Air mata itu terus bercucuran, “ Oppa..maafkan aku..” isaknya. Ia merosotkan tubuhnya dipintu kamar Chanyeol dan terus menangis. Berusaha menggedor – gedor pintu itu agar Chanyeol mau membukanya. Namun Chanyeol tak kunjung membukanya. Dan dibalik pintu, Chanyeol duduk menyandarkan tubuhnya di pintu seraya menangis ketika ia mengetahui penderitaannya.

***
Hari – hari Karen di sekolahnya berubah muram. Ia juga jarang latihan berlari padahal kompetisi sudah dekat. Hyemi sudah menyuruhnya untuk berlatih, tapi tetap saja ia menolak. Sekarang, otaknya hanya memikirkan Chanyeol. Apa kabarnya sekarang setelah ia tidak keluar kamar dalam seminggu? Apa ia masih belum bisa menerima takdirnya?
.
.
Ayah dan ibu terus mencari cangkok mata di berbagai rumah sakit dan itu membuat Chanyeol sadar. Ia tidak harus seperti ini, mengurung dirinya di kamar terus – terusan. Ia memutuskan untuk keluar kamar. Malam ini, hujan turun lebat dengan disertai petir – petir yang menggelegar. Lalu, ia ingat adik perempuannya, Karen. Karen takut petir dan hanya ibu yang bisa menenangkannya. Belum lagi seluruh perumahan mereka padam. Dan Chanyeol memberanikan diri untuk melihat kondis adiknya sekarang.

Ia membuka pintu kamar tersebut. Mencari sosok adiknya selagi matanya masih dapat melihat, “ Karen?” suara Chanyeol tidak terdengar jelas karena berisiknya suara hujan. Lalu, ia mendapati sosok perempuan yang memeluk lututnya seraya menangis ketakutan disudut kamar. Chanyeol menghampiri adiknya itu, “ Karen? Kau dengar aku, ‘kan?” Tanyanya. Karen menoleh, lalu mendapati wajah Chanyeol dihadapannya. Ia semakin takut. Ia takut Chanyeol marah padanya.

“ Kau takut petir, ‘kan? Tidurlah, kau pasti bisa melawan petir sialan ini.” Semangat Chanyeol. Namun Karen menjawabnya dengan gelengan. Ia takut mendengar suara itu.

PYAR!

Suara petir itu membuatnya terkejut dan ketakutan setengah mati. Sontak ia langsung memeluk Chanyeol, “ Oppa..aku takut..” ucapnya. Chanyeol baru kali ini mendengar sisi lembut seorang Karen. Ia tidak marah. Justru ia senang dapat melindungi adiknya sekarang, “ Sekarang ayo tidur.”

Chanyeol membawa Karen ke tempat tidur birunya. Menaikkan selimutnya sampai leher. “ Bayangkan saja jika petir itu tidak ada. Kau pasti bisa tertidur nyenyak.” Ucap Chanyeol. Disaat Chanyeol melangkah, tangannya digenggam oleh Karen, “ Aku tidak bisa, Oppa..” rengeknya membuat Chanyeol tidak bisa meninggalkannya. Ia ikut berbaring disamping Karen sambil merapikan anak – anak rambutnya, “ Tenanglah, aku disini. Kau aman bersamaku.” Ucapnya lembut membuat Karen sedikit tenang. Chanyeol tetap mengelus lembut rambut adiknya itu membuatnya dapat terlelap.

Ia melihat wajah polos itu ketika tertidur. Dan ia sadar, adiknya sangat cantik dibanding Miss Korea. Ia mengusap pipinya yang basah. Dan hatinya berbisik, “ Karen, kau tidak salah. Karena Tuhan punya rencana lain.”. Lalu, keduanya terlelap memasuki alam mimpi.

***

Matahari menelusup matanya membuat ia terbangun. Merenggangkan otot – ototnya yang kaku. Ia baru sadar ketika mendapati tubuhnya terbalut selimut. Dan ini adalah kamar Karen. Lalu ia baru bisa mengingat kejadian yang terjadi pada tadi malam. Matanya mengarah pada sebuah memo yang tertempel di palang tempat tidur,
Terimakasih atas tadi malam, Oppa..
Aku…menyayangimu..

Sudut bibirnya tertarik mengukir sebuah senyuman. Ini adalah surat manis pertama yang diberikan Karen untuk Chanyeol. Chanyeol membuka jendela dan melihat pemandangan sekitar, dan menatap langit biru, “ Tuhan, jangan buat adikku merasa bersalah lagi..”
.

.
Sejak malam itu, hubungan keduanya kian membaik. Ayah dan ibu senang melihatnya. Impian mereka melihat keduanya akur sudah tercapai. Sekarang, mereka hanya harus menunggu waktu dimana Chanyeol harus siap menghadapinya. Malam ini, Karen membuatkan makanan khusus untuk Chanyeol.

“ Oppa!” pekiknya ketika berada didepan pintu membawakan nampan berisi makanan yang lezat. “ Hei, apa yang kau buat hari ini?” Tanya Chanyeol ceria. Karen menghampiri kakaknya yang berada ditempat tidur, “ Sup macaroni dan segelas susu rendah lemak. Aku tidak mau melihatmu gendut.” Cibir Karen membuat Chanyeol mencubit pipinya, “ Kita buktikan saja apa ini lezat atau tidak.”

Chanyeol memasukkan sesendok sup kedalam mulutnya. Mulutnya masih menganalisis dengan apa yang dimakannya. Kening Chanyeol berkerut membuat Karen sedikit gugup. Chanyeol menatap Karen aneh, “ Sejak kapan kau pandai masak?”

Karen lega. Ternyata Chanyeol menyukainya, “ Tidak sia – sia aku belajar seharian untuk membuat sup ini.” Ucap Karen. Chanyeol tersenyum, “ Kaulah yang membuatku gendut. Aku tidak boleh terlalu sering untuk makan malam.” Cibir Chanyeol. “ Jadi, kau tidak mau? Yasudah buatku saja!” Karen berpura – pura kesal.

“ Kau mau juga? Sini aku suapkan.” Ucap Chanyeol dan Karen sangat senang hati. Malam ini, terasa menyenangkan. Hari – hari mengalir seperti air. Tak ada hari tanpa senyuman. Karen kini sadar jika ia dititipkan untuk Chanyeol agar kakaknya tersebut dapat bertanggung jawab bersama adiknya.

“ Jangan bilang kalau nanti ada petir lagi, aku malas tidur dikamarmu.”

“ Awas kau, oppa!”

***
Pagi di hari minggu ini, Karen berencana untuk mengajak Chanyeol pergi ke taman bermain di taman kota. Sekaligus untuk me- refreshing otaknya dari segala macam pikiran. Ketika sudah berpakaian rapi dengan rambut tergerai indah, ia pergi ke kamar Chanyeol. Apakah si pemalas itu sudah bangun?
Ia membuka pintu kamar, “ Oppa?” panggilnya seraya mencari sosok itu. Ia melihat Chanyeol kini duduk termenung dengan cucuran air mata. Hal ini membuat Karen heran dan memutuskan untuk menghampiri kakaknya. “ Oppa, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” Tanya Karen khawatir.

Chanyeol bertingkah aneh. Ia melihat Chanyeol menggerakkan tangannya mencari sosok Karen, “ Karen, kau dimana? Kau dimana?!” pekiknya. Karen menangkap perilaku itu. Secepat inikah ia tidak bisa lagi melihat. “ Oppa, aku disini. Raih tanganku!” ucap Karen khawatir. Chanyeol berhasil meraih tangannya. Ia memeluk Karen sambil menangis, “ Karen, kenapa secepat ini? Kenapa?!” isaknya dipundak gadis itu. Karen ikut menangis. Memeluk Chanyeol erat seakan tak ingin melepaskannya.

“ Oppa…maafkan aku..maafkan aku…” isaknya dalam hati.

***

Tak banyak yang bisa dilakukan Chanyeol. Terkadang, ia hanya tidur dan berdiam diri di kamar. Karen belum kunjung melihatnya. Ia terlalu takut melihat Chanyeol yang kini tidak lagi dapat melihat dirinya. Cangkok mata sudah dicari – cari oleh kedua orangtuanya, namun gagal. Cangkok mata sangat susah mendapatkannya.

Tapi, seperti yang lalu. Ia tak bisa meninggalkan Chanyeol sendirian. Ia adalah adik Chanyeol. Yang senantiasa menemani kakak laki – lakinya dalam sepinya keadaan. Karen kembali membawakan nampan berisi semangkuk nasi dan beberapa lauk. Setelah membuka pintu, ia mendapatkan Chanyeol tengah menyentuh matanya, “ Oppa?” panggilnya.

Chanyeol dapat mendengar suara khas itu. Ia segera berjalan dan mencari si tubuh mungil itu, “ Karen?” panggilnya memastikan jika gadis itu adalah adiknya yang akhir – akhir ini tidak berkunjung kekamarnya. “ Berhentilah bergerak, Oppa. Biarkan aku yang pergi kesana. Aku tahu kau pasti sangat lapar sekarang.” Ucapnya meletakkan nampan di tempat tidur Chanyeol dan membantu kakaknya untuk kembali ke tempat tidur.

“ Makanlah. Jangan pikirkan hal ini, Oppa.” Ucap Karen sembari menyuapkan sesendok ke mulut Chanyeol. “ Bukan mata ini yang kupikirkan. Tapi dirimu..” perkataan Chanyeol membuat Karen terdiam dan menghentikan kegiatannya menyuapkan Chanyeol. “ Kenapa memikirkanku?” tanyanya. Chanyeol merapikan duduknya, “ Karena kau terlalu memikirkan kesalahanmu tentang diriku. Bahkan kau melupakan dirimu sendiri. Kau berhenti berlari, ‘kan? Aku tahu karena ibu menceritakannya. Sudah kubilang, aku tak apa.” Ucapan Chanyeol membuat Karen ingin menangis, namun ia menahannya. Walaupun Chanyeol tidak dapat melihatnya, tapi ikatan batin itu dapat merasakannya.

“ Aku berhenti berlari karena aku ingin menjagamu tanpa gangguan, Oppa.” Terangnya. Chanyeol menggeleng, “ Kau menangis setiap hari. Aku dapat merasakannya. Kau ingat dulu saat kita saling membenci? Bahkan kau terpaksa mengalah hanya karena aku ingin dibelikan sepatu terlebih dahulu. Kau ingat, ‘kan?” Tanya Chanyeol dibalas anggukan Karen.

“ Membencimu, bukan berarti aku tidak memikirkanmu. Aku marah karena aku adalah kakak laki – lakimu yang dapat mengajari sesuatu yang baik untukmu.” Ucapan Chanyeol yang terdengar tulus itu membuat Karen menangis. Dan Chanyeol bersedia memeluk peri kecilnya itu. “ Oppa, maafkan aku bersikap tidak sopan padamu selama ini.” Isak Karen. Chanyeol berusaha menenangkannya, “ Karen, kau tidak pernah salah. Tidak pernah.” Tutur Chanyeol.

“ Aku ingin kau berlari lagi. Berlari di lapangan luas dan berpacu dengan orang banyak. Dan saat itu aku akan berdiri dan meneriakkan namamu sekeras mungkin Berjanjilah, setelah ini kau akan berlari lagi. Menang atau tidak bukan masalah. Yang penting kau sudah berusaha.” Sambung Chanyeol.

“ Aku berjanji..”

***
Pelatih Jung sangat senang dengan semangat Karen. Namun ia juga khawatir dengannya. Ia terlalu sering berlatih. Apakah ia tidak lelah? Seminggu ini, ia full mendatangi lapangan dan berlari sekuat tenaga. Pelatih Jung menghampirinya yang kini tengah mengatur nafas, “ Karen? Duduklah sebentar. Ada yang aku ingin bicarakan.” Ucapnya. Karen hanya menurut dan duduk dikursi yang telah disediakan.

“ Kenapa kau berlatih setiap hari? Apakah kau tidak lelah?” Tanya Pelatih Jung. Karen tersenyum, “ Tidak. Karena aku memiliki tujuan dibalik ini semua.”. Pelatih Jung mengerutkan keningnya, “ Kalau boleh tahu, apakah tujuan itu?” Tanyanya sopan. Karen menyeka keringatnya dengan handuk. “ Kakak laki – lakiku ingin melihatku berlari lagi, pelatih. Ia ingin datang saat aku lomba.” Tuturnya.

Pelatih Jung tersenyum, “ Kau masih dapat bersyukur ketika kau masih memiliki kakak laki – laki, Karen.” Ucapan sang pelatih membuat Karen heran, “ Kenapa, pelatih?” Tanya Karen penasaran. Pelatih Jung menghela nafas panjang, “ Dulu, saat aku kecil, kakak laki – lakiku sangat menyayangiku. Sampai – sampai ia harus meninggal karena menyelamatkanku saat kecelakaan didalam bus. Aku masih menyesali itu sampai sekarang.” Jelas Pelatih Jung berusaha tegar.
Karen menatap kebawah, “ Kalau kakakku buta, pelatih. Aku juga masih menyesali itu sampai sekarang karena akulah penyebabnya.” Singkatnya sembari menggerak – gerakan kakinya. Pelatih Jung menepuk pundaknya, “ Tunjukkan cinta terbaikmu padanya sebelum ia tidak hadir lagi didalam penglihatanmu.”
.
.
“ Bagaimana dengan latihannya? Menyenangkan?”
Kini, keduanya tengah duduk di teras depan rumah sembari menyeruput teh hijau, “ Menyenangkan. Dua minggu lagi kompetisi akan diadakan. Kau janji akan datang, ‘kan?” Tanya Karen. Chanyeol tersenyum, “ Tentu saja! Aku tidak ingin melewatkan momen itu.” Chanyeol antusias.

Karen ikut tersenyum, “ Tenang saja. Jika aku menang nanti, aku akan membelikanmu apa saja. Oke?” tawar Karen. Chanyeol hanya dapat tersenyum mendengarnya. Senyum itu membuatnya semangat untuk mengikuti kompetisi itu. Ia selalu bertekad ia akan menang. Jika ia menang, Chanyeol pasti senang dan bangga pada adiknya.

***
Lapangan utama Seoul sudah diramaikan beberapa pengunjung. Ini adalah hari yang ditunggu – tunggu Karen. Walaupun merasa gugup, namun celah kecil dihatinya masih memiliki kepercayaan diri. Ia harus menang, harus!. Ke duabelas peserta pelari terbaik dari sekolah terpilih telah berkumpul ditengah lapangan. Peraturan demi peraturan telah dibaca. Dan suara khas dari Chanyeol terdengar dipendengaran Karen, “ Ayo, Karen! Semangat!” dan perkataan itu membuat Karen tersenyum.

Semua peserta telah bersiap di garis start. Ini adalah saatnya. Membuktikan jika ia adalah pemenangnya.

“3..2..1 Prittt!”

Peluit sudah dibunyikan. Semua peserta berlari dengan semampu mereka. Karen berada diurutan kelima sekarang. Latihan demi latihan ternyata tak sia – sia.Tapi nomor urut lima bukanlah yang diinginkannya. Ia ingin menjadi nomor satu. Dengan gesit, kini ia berada di urut 3, “ Ayolah Park Karen, dua orang lagi! Kau pasti bisa mencapainya!” semangatnya dalam batin.

BRUKK!
Namun, sial! Kakinya terpeleset dan membuatnya jatuh dan tertinggal.

Semua orang terkejut ketika melihat peserta dengan nomor punggung 27 terjatuh dan terguling. Ibu terlihat memekikkan namanya. Membuat Chanyeol sedikit khawatir dengan keadaan Karen yang tengah berlomba, “ Bu, apa yang terjadi?” Tanya Chanyeol. “ Tidak ada, Chanyeol. Adikmu sedang berlari dengan cepat sekarang.” Dusta ibu.
Tapi, Chanyeol tak bisa dibohongi. Ia tahu jika Karen tengah mengalami kesulitan, “ Karen, jika kau tidak bisa, jangan dipaksa. Pikirkan dirimu! Pikirkan dirimu!” batinnya.
.
.

Tubuhnya sedikit sakit. Namun, akhirnya ia dapat berdiri lagi. Ia berlari walaupun tertinggal cukup jauh. Ia membulatkan tekadnya. Ia berteriak dengan maksud membuatnya semangat. Dan teriakan itu berhasil membuat melaju melewati beberapa orang. Sorak – sorak dari supporter di lapangan terdengar sebagai vitamin baginya. Ia tidak ingin mengecewakan keluarganya, apalagi Chanyeol. Kini, ia berada di urut dua. “ Ayo, Karen! Satu orang lagi!” semangatnya berapi – api. Pita finish telah terlihat. Puluhan langkah lagi ia dapat mencapai tujuannya. Luar biasa, di detik – detik terakhir ia dapat menyalip saingannya dan kini ia mendapat posisi pertama membuat semua orang bersorak takjub.

Prittt!

Telah dinobatkan jika Karen adalah pemenangnya. Ia mendapat posisi pertama sebagai pemenang. Kakinya terlalu lelah dan tak sengaja kakinya terpeletuk dan ia terjatuh. Rasanya sakit, namun ia sangat senang karena dapat memenangkan kompetisi ini. Chanyeol oppa! Ini untukmu!

***

“ Telah dinobatkan, juara pertama lomba lari murid SMP – SMA sekota Seoul jatuh kepada, PARK KAREN!!!!” MC meneriakkan namanya serta memberikan piala. Beberapa petinggi Negara menyalaminya. Menteri Olahraga mengalungkan medali emas dilehernya. Kakinya masih terasa sakit, namun ia menghiraukannya. Yang penting, ia sudah dapat membuat Chanyeol bangga akan dirinya.

“ Park Karen, ada yang ingin anda sampaikan untuk seluruh isi lapangan ini?” Tanya MC memberikan michrophone pada Karen. Karen menerimanya dan menyiapkan susunan kata yang tepat untuk semua orang disini. “ Saya sangat senang ketika saya mendapat piala sebagai juara satu sekota Seoul. Dan salah seorang vitamin yang terus menyemangati saya adalah kakak saya, Chanyeol. Ia terus menyemangati saya tanpa memikirkan dirinya. Ia kakak yang baik dan bersedia memeluk adiknya disaat saya sedih.

Ia adalah kakak sempurna yang dilahirkan Tuhan untuk saya. Dia bagai keajaiban untuk saya. Dan semua ini saya persembahkan untuknya yang selalu membuat saya senang di sisinya. Dan satu hal lagi yang paling penting.” Karen menggantungkan kalimatnya membuat penonton penasaran.

Ia mengambil nafas perlahan, “ Hadiah berupa uang tunai sebanyak ratusan juta ini..adalah hadiah untukmu, Oppa..Aku akan membelikanmu mata yang baru. Agar kau dapat melihat kembali keindahan dunia. Agar kau dapat melihat senyumku yang ditujukan hanya untukmu. Dan agar kau dapat melihat betapa jeleknya adikmu ini. Oppa, aku mencintaimu!”

Pidato singkat Karen membuat penonton menangis haru akan cerita menyentuh ini. Dideretan kursi penonton tersebut, Chanyeol menangis bahagia. Ia menyadari jika Karen berusaha keras menjadi juara satu untuk membelikan hadiah yang tidak pernah dibayangkannya. Ayah dan ibu memeluk Chanyeol ikut menangis bahagia atas perjuangan putrinya ini. Sebuah perjuangan yang hanya ditujukan pada kakak laki – laki tercintanya seorang.

“ Karen…aku juga mencintaimu!”
***
Ini sudah sebulan setelah kompetisi itu. Chanyeol sudah sangat bahagia ketika ia dapat melihat dunia kembali. Hari ini, mereka bermain di pantai. Chanyeol mengajak Karen dengan tongkatnya menuju bibir pantai. “ Terimakasih atas mata ini, Karen.” Ucap Chanyeol melihat adiknya yang juga menatapnya. “ Berapa kali kau harus mengatakan itu, Oppa?” cibir Karen membuat Chanyeol mengacak rambutnya gemas. Karen melihat ombak yang terus berkejar – kejaran, “ Andai aku sudah bisa berjalan sekarang. Aku pasti sudah bermain disana.” Keluh Karen. Chanyeol mendengar harapan itu. Dengan iseng, ia mengangkat adiknya ke punggung dan membawa Karen ke pantai dan bermain disana. Tawa yang cerah itu tak pernah lepas dari wajah keduanya. Dan hari ini, adalah hari yang tidak pernah dilupakannya. Hari ini akan diingatnya seumur hidup.
.
.
Malam semakin larut. Namun Karen belum tertidur juga. Ia pergi kekamar Chanyeol untuk melihat keadaannya. Wajah polos itu membuat tenang. Karen menaikkan selimutnya dan mengelus rambutnya sekilas. Lalu, matanya menangkap secarik surat pink di meja belajar Chanyeol. Ia membukanya dan membaca tulisan tersebut. Dan pesan bertinta itu kembali membuatnya menangis bahagia. Betapa beruntungnya ia memiliki kakak laki – laki seperti Chanyeol;

Surat Kecil Untuk Peri Kecilku..

Aku bodoh dalam merangkai kata – kata.
Tapi hanya ini yang bisa kusampaikan

Karena aku dilahirkan..
Untuk menjadi pembimbingmu selama kita bersama..
Karena aku dilahirkan..
Untuk membuatmu terus tersenyum setiap hari..
Karena aku dilahirkan..
Untuk mengusap air matamu dikala sedih..
Dan kenapa aku dilahirkan?
Karena aku dilahirkan untuk membuatmu nyaman dipelukanku..

*Tamat*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s