Windflower – 02

qarenzapark-windflower-poster_by_vtaehy

Qarenzapark presented..
“ Windflower “
Starring by Xiao Luhan and Choi Sooyoung
With feelin’ Romance, Sad
And have rate: PG-15

Poster : vtaehy at indofanfictionsarts

“ Karena alasan yang kau tujukan adalah alasan yang tetap saja membuatku tidak akan pernah membencimu, karena aku mencintaimu..”
***

PART 2…

Luhan berlari menuju pintu rumahnya. Hatinya murka pada Sooyoung. Bagaimana bisa ia merelakannya tubuhnya pada ayah dari temannya?! Luhan telah membuka pintu dan menemukan Sooyoung yang tengah menyapu rumahnya, “ Choi Sooyoung!” pekiknya membuat wanita itu tersentak. Luhan mencengkeram bahunya dan mendorongnya ke dinding, “ Luhan, kau kenapa?” Sooyoung merasa nyeri.

“ Kenapa kau merelakan tubuhnya pada Jung Yuhyun? Kenapa kau sangat ceroboh!” Luhan menatap Sooyoung tajam, “ Memangnya kenapa? Dia bukan ayahmu, ‘kan?” Tanya Sooyoung membela dirinya sendiri. “ Tapi dia adalah ayah dari pacarku saat semester satu dulu, Hanmi.” Ucapan Luhan membuat Sooyoung terdiam. “ Sungguh, aku benar – benar tidak tahu jika Jung Yuhyun adalah ayah dari Hanmi.” Jelas Sooyoung.

“ Kau terlalu bodoh, Sooyoung! Kenapa kau merelakan tubuhmu pada Jung Yuhyun si tua itu! Aku benar – benar kecewa padamu.” Luhan kecewa. Bisa – bisanya Sooyoung melewati batas. “ Kumohon maafkan aku, Lu. Maafkan aku.” Sooyoung meminta maaf. Lengan Luhan melemah. Sooyoung melepaskan dirinya dan berlari keluar meninggalkan Luhan dengan semua kekecewaannya. Apa yang terjadi pada Luhan? Apakah ia jatuh cinta lagi pada pelacur itu?

***

Sooyoung tak tahu harus kemana sekarang. Perkataan Luhan seakan menyuruhnya angkat kaki dari rumahnya. Malam ini, ia hanya duduk di halte sambil menikmati alunan suara hujan yang lebat. Ia tidak punya uang dan tak ingin pergi dari halte. Lalu, seorang pria ber-jas duduk beberapa meter darinya. Sooyoung hanya menghiraukannya. Namun, jas itu mengingatkannya pada sesuatu. Tapi, ia tak ingat. Sekarang, ia harus memikirkan kemana ia harus pergi.

Tiba – tiba, pria ber-jas itu berdiri dihadapannya dan membuka kacamata hitamnya, “ Kau kenal aku, Nona?”. Wajah itu sangat dikenalinya. Wajah seseorang yang selalu ingin dihindarinya. Sooyoung berlari, namun tangan itu menariknya agar tidak pergi, “ Kau tidak boleh pergi lagi, uangku.” Ucapnya licik. “ Lepaskan aku, Oh Jongseok!” ia meronta. Dan terpaksa, ia menggigit lengan itu sekuat tenaga membuat pria itu melepaskan tangannya. Sooyoung berlari menjauh setelah melihat Oh Jongseok mulai mengejarnya dan dikawal dua orang bodyguard.

BRUG!

Sial! Tubuhnya tersungkur akibat jalanan yang licin. Lututnya terluka. Ia berusaha bangkit dan berlari namun tidak terlalu cepat karena kondisi kakinya. Oh Jongseok semakin mendekat. Lalu, seseorang menarik Sooyoung dan menutup mulutnya. “ Sssttt, diamlah.” Ucap lelaki misterius. Siapa dia sebenarnya? Oh Jongseok dan kedua bodyguard-nya sudah menjauh.

Sooyoung melepaskan tangan misterius dari mulutnya, “ Siapa kau sebenarnya?!” ucap Sooyoung. Dan lelaki itu lagi. Luhan. Rintik – rintik hujan membasahi keduanya, “ Kenapa kau tinggalkan rumah, Sooyoung! Dasar bodoh!” kesal Luhan.

Sooyoung ingin menghindari Luhan. Ia berlari, namun terjatuh lagi. Luhan membantunya berdiri, “ Jangan berlari kalau kau tidak kuat.” Pesan Luhan. Sooyoung merintih kesakitan. Sepertinya ia tidak kuat berjalan. “ Naiklah ke punggungku.” Suruh Luhan. Sooyoung menolak, “ Aku berat, Lu. Sungguh!” ucap Sooyoung. Namun, Luhan memaksa Sooyoung dan tubuhnya dapat terangkat, “ Siapa yang bilang berat? Dasar pembohong.” Keluh Luhan.

Luhan berjalan sambil membawa Sooyoung, “ Bagaimana rasanya jatuh? Sedap, ‘kan?” cibir Luhan dan Sooyoung hanya bisa mengeluh, “ Sakit, Lu.” Singkatnya. “ Kemana kita sekarang?” Tanya Luhan. Sooyoung menyadari tempat ini. Daerah ini adalah tempat tinggal keluarganya. “ Bagaimana jika kita kerumahmu?” Tanya Luhan.

“ Tidak, Luhan! Aku tidak mau diusir keluargaku!” tolak Sooyoung menyembunyikan kepalanya dipunggung Luhan. “Jangan takut. Mana tahu mereka bisa memaafkanmu.” Ucap Luhan. Sooyoung merengek, “ Kumohon, Lu. Aku tidak ingin buat mereka kecewa.”. “ Apakah kau tidak sadar? Kepergianmu dari rumah lah yang membuat mereka kecewa, Sooyoung.” Tukas Luhan. Sooyoung hanya bisa pasrah.

“ Jangan takut. Aku ‘kan ada disampingmu sekarang.”

***

Ini adalah rumah keluarga Choi. Sederhana dan biasa saja. Luhan membantu Sooyoung berjalan. Lalu, mengetuk pintu. “ Ayah, Ibu!” pekiknya sekuat tenaga. Luhan dapat mendengar suara Sooyoung yang kian melemah. Pintu dibuka oleh seorang pria berumur sekitar 50 tahunan yang diyakini adalah ayah Sooyoung, “ Ayah!” pekik Sooyoung. Bukannya pelukan pada putrinya, sang ayah mendorong Sooyoung, untungnya Luhan menangkapnya, “ Pergilah dari sini! Kau bukan putri ku lagi!” amarahnya memuncak. Lalu, ibu hadir disamping ayah,” Sooyoung!” pekiknya memeluk putrinya penuh rindu,

“ Kemana saja kamu selama ini?” Tanya ibu dengan air mata yang telah tumpah. “ Ibu, maafkan aku..” Sooyoung membalas pelukan ibu.

Namun, sang Ayah memisahkan keduanya, “ Nn. Sooyoung! Pergilah dari sini! Kau bukan bagian kami lagi!” amarah Ayah masih memuncak. “ Tn. Xi, kenapa anda mau menolongnya? Dia membuat keluarga anda juga malu.” Sambung Ayah. Luhan menatap ayah Sooyoung, “ Karena dia teman saya. Dia butuh seseorang yang mengobati rasa rindu pada keluarganya.” Ucap Luhan.

“ Aku tidak peduli! Pergilah dari sini! Aku tak sudi lagi melihatmu!” sang Ayah membawa ibu masuk serta menutup pintu rapat – rapat. Sooyoung kembali menggedor – gedor pintu seraya meneriakkan ibu dan ayahnya. “ Sooyoung, lebih baik kita pulang. Kau bisa sakit nanti.” Pesan Luhan. Sooyoung meninggalkan tempat itu. Tempat dimana ia dibesarkan dan ia harus meninggalkan semua kenangan masa kecilnya.

***

Luhan mengobati luka di lutut Sooyoung. Lelaki itu hanya bisa menatapi wanita yang sedang bermenung itu. “ Soo?” panggilnya namun dihiraukan. Luhan tak ingin memanggilnya dua kali. Ia takut jika mood-nya berubah. Setelah selesai,

Luhan memberikan handuk dan mengeringkan rambut Sooyoung, “ Lu?” sahutan Sooyoung membuat Luhan menghentikan kegiatannya, “ Ada apa?” Tanya Luhan. Sooyoung menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa. Sebuah tatapan kesepian, “ Apakah kau akan jadi orang yang selanjutnya untuk yang meninggalkanku?” tanyanya membuat Luhan menggeleng, “ Tidak akan pernah.”

“ Kenapa?” Tanya Sooyoung meyakinkan. “ Karena aku temanmu.” Singkat Luhan. “ Aku ingin tidur, Lu.” Ucap Sooyoung.

Luhan mengangguk dan membiarkan Sooyoung membaringkan tubuhnya. Sedangkan Luhan memutuskan untuk ke dapur meneguk segelas air. Dirinya berpikir betapa menyedihkan Sooyoung. Diusir oleh orangtuanya sendiri. Belum lagi, ia tidak punya teman selain dirinya dan Sojin. Dan kata ‘kesepian’ adalah kata yang tepat untuk seorang Sooyoung.

Luhan kembali ketempat tidurnya. Melihat wajah sosok yang lemah itu. Wajah polosnya terlihat tidak memiliki beban. Dan wajah itu mengingatkannya pada beberapa bulan lalu. Dimana ia jatuh cinta pada wanita bertubuh jangkung itu. Surai brunette, pipi bulat, serta tingkat kecerdasannya membuat Luhan jatuh hati.
Tiba – tiba, Luhan mendekatkan wajahnya pada Sooyoung. Lalu, kedua bibir itu bertemu. Luhan ikut memejamkan mata.

Menyalurkan semua kasih sayangnya pada wanita itu. Dilepasnya kecupan tersebut dan kembali ditatapnya wajah bak malaikat itu. Wajah yang selalu ingin dilihatnya beberapa hari ini. Wajah yang selalu membuatkannya sarapan spesial. Seharusnya, Luhan beruntung punya wanita seperti Sooyoung. Walaupun Sooyoung sendiri menganggap dirinya wanita bajingan.

***

Matahari menelusup lewat celah – celah kecil jendela membuat Luhan terbangun. Ia bangun dari sofa dan mencari Sooyoung yang sudah tak ada lagi dikamarnya. Namun, di kamar mandi terdengar suara air yang terus mengalir. Luhan mulai cemas. Ia mendatangi kamar mandi dengan mengetuknya terlebih dahulu, “ Sooyoung? Kau dengar aku?”

Tak ada jawaban. Hal ini membuat Luhan semakin takut. Dengan hati yang berat, ia membuka pintu kamar mandi. Dan ia terkejut ketika mendapati Sooyoung tak sadarkan diri dengan pergelangan tangan mengeluarkan darah, “ Sooyoung!” pekiknya cemas. Ia segera membawa Sooyoung menuju rumah sakit. Sungguh, apa yang dilakukan Sooyoung sekarang benar – benar gila.
.
.

“ Bagaimana dok? Apakah Sooyoung mengalami masalah serius?” Tanya Luhan. “ Untungnya, penanganan dilakukan secara cepat. Kalau tidak, bisa fatal.” Ucap dokter. “ Kalau begitu, terimakasih atas penanganannya, dokter. Saya harus melihat nyonya Choi.” Tutur Luhan permisi. Luhan masuk kedalam ruang rawat dan menemukan Sooyoung yang telah sadar dan bermenung, “ Kenapa kau melakukannya, Soo?” cemas Luhan. Ia kembali kecewa dengan apa yang diperbuat wanita itu. Sooyoung masih menatap kosong. Bibirnya belum juga bergerak. “ Soo?” desakan Luhan harus membuat Sooyoung menjawabnya, “ Karena aku tak merasa dibutuhkan lagi di dunia ini.” Terang Sooyoung.

Luhan menatap Sooyoung intens, “ Jika kau tidak dibutuhkan, kenapa kau masih ada disini saat ini? Itu karena Tuhan masih menyayangimu dan ia ingin melihat bagaimana umatnya melawan cobaan yang diberikannya.” Pesan Luhan. Sooyoung berusaha duduk, Luhan mencegahnya, tapi Sooyoung tetap bersikeras untuk duduk.
“ Wanita bajingan seperti aku ini masih disayang Tuhan?” Tanya Sooyoung menatap Luhan. Lelaki itu tersenyum simpul, “ Tuhan tidak seperti kita. Ia akan mencintai semua umatnya tidak melihat dari fisik maupun derajatnya.” Jawab Luhan. Sooyoung perlahan tersenyum.

“ Selagi kau masih memiliki orang – orang yang menyayangimu, teruslah bertahan.” Pernyataan Luhan membuat wanita lemah itu tersenyum, “ Terimakasih, Luhan.”

Dan, Luhan sadar apa yang dikatakannya. Ia menyayangi Sooyoung. Seperti ia bertemu dengannya beberapa bulan lalu. Ia ingin terus Sooyoung bertahan. Agar Sooyoung berada disampingnya. Ternyata, rasa itu kembali lagi menghinggapi hatinya.

***

Seminggu setelahnya, Sooyoung bertemu dengan Sojin. “ Hei, bagaimana kabarmu? Maaf, aku tidak bisa mengunjungimu.” Terang Sojin. Sooyoung tersenyum simpul, “ Tak apa. Aku mengerti.” Jawab Sooyoung.

“ Bagaimana dengan Luhan?” Tanya Sojin. Sooyoung meneguk milkshake – nya, “ Akhir – akhir ini ia memperhatikanku dengan baik.” Jelas Sooyoung. Sojin dapat tersenyum. Ternyata, Luhan dapat dipercaya. Drrrt! Ponsel Sooyoung berdering. Ia mengangkat panggilan,

“ Halo, Paman? Ada apa?”

“ Sooyoung. Adikmu, Soohyun..mengalami kecelakaan.”

“ Paman? Paman sedang tidak bercanda, ‘kan?”

“ Tidak, Sooyoung. Ini serius. Kuharap, kau dapat kesini secepatnya.”

“ Aku akan kesana, Paman.”

Sooyoung terburu – buru dan kini berdiri, membuat Sojin ikut berdiri dan menggenggam pergelangan tangannya, “ Apa yang terjadi, Soo?” Tanya Sojin. Sooyoung terlihat hampir meneteskan air mata, “ Soohyun. Malaikat kecilku kecelakaan. Aku harus mengunjunginya.” Sooyoung bergegas, namun Sojin menahannya, “ Izinkan aku untuk ikut bersamamu.”

“ Kalau begitu, ayo.”
.
.

Sooyoung dan Sojin akhirnya dapat menemukan ruangan tersebut. Disana, berdiri seorang pria yang sangat ia kenali. Itu ayahnya. Sedangkan ibunya kini menangis sejadi – jadinya. Dengan langkah terpaksa, ia mendekat, “ Ayah, apa yang terjadi pada Soohyun?” Tanya Sooyoung. Sojin hanya menonton.

“ Apa pedulimu?! Kau meninggalkan adikmu!” ayahnya membentak Sooyoung membuatnya menangis. “ Izinkan aku menemui Soohyun, ayah. Izinkan.” Pinta Sooyoung. Ayahnya mendorong tubuh kurusnya, “ Pergilah!” tubuhnya terpental namun berhasil ditangkap Sojin. Dari kejauhan, ia dapat melihat Soohyuk, adik laki – laki pertamanya yang kini berlari mengarah padanya, “ Sooyoung noona!” pekiknya. Namun, ayah mencegah Soohyuk untuk mendekati Sooyoung.

“ Keluarga Choi tidak akan pernah menerima pelacur sepertimu. Sekarang, pergilah! Jangan kotori pula tempat ini!” pekik ayahnya membuat Sooyoung memeluk Sojin sambil menangis. Sojin tidak bisa apa – apa. Ia menatap ayah ibu Sooyoung hormat, “ Ayo pergi dari sini. Aku tidak ingin ada sebuah kejadian yang lebih buruk.”
Sooyoung meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Soohyun, bocah laki – laki kecil yang selalu memanggil namanya tiap malam menunggu cerita dongeng yang akan dibacakan oleh Sooyoung. Sungguh, Sooyoung sangat menyayangi Soohyun. Ia rindu akan pelukan mungil dari Soohyun.
.
.
Botol demi botol telah dihabisinya. Sooyoung merasa depresi, “ Soo? Berhentilah!” pinta Sojin. Sooyoung tersenyum sendiri layaknya orang gila, “ Biarkan aku bersenang – senang kali ini! Tuan, tolong dua botol lagi!” pekiknya. Sojin menatap Sooyoung sedih. Ia harus berubah, ia tak akan bisa begini seterusnya. Hanya satu yang akan jadi harapannya. Lelaki itu. Ya, Xi Luhan.

*Session Continues*

N/B : Maaf kalian nunggunya sampai lumutan ye, pemberitahuan aja kalo Windflower hanya berakhir dengan empat chapter^^ Stay tune deaar

Iklan

3 thoughts on “Windflower – 02

  1. febryza berkata:

    kok bapaknya sooyoung jahat sih.. kasian sooyoung tapi sooyoung harusnya jangan mabuk2an mulu lah emang kalo gitu masalahnya bisa selesai

  2. winterchan berkata:

    Ih sooyoung kasian bangeet ㅠㅠ
    Ya pokoknya aku counting on Luhan banget lah. Harus jaga sooyoung terus. Btw kiss scene nya cikidaw sekali hwhwhw, luhan udah mulai suka atau apa itu tandanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s