Windflower – 03

qarenzapark-windflower-poster_by_vtaehy

Qarenzapark presented..
“ Windflower “
Starring by Xiao Luhan and Choi Sooyoung
With feelin’ Romance, Sad
And have rate: PG-15

Poster : vtaehy at indofanfictionsarts

“ Karena alasan yang kau tujukan adalah alasan yang tetap saja membuatku tidak akan pernah membencimu, karena aku mencintaimu..”
***

PART 3…

Sojin membawa Sooyoung ke rumah Luhan. Luhan yang berada didepan pintu terkejut dan segera membantu Sojin untuk memapahnya, “ Apa yang terjadi,Sojin?” Tanya Luhan yang kini memapah tubuh Sooyoung. Sojin menggigit bibir bawahnya, “ Ia terlalu banyak meminum alcohol. Maafkan aku, aku tak bisa membuatnya berhenti.” Sojin meminta maaf.

“ Hei, siapa kau lelaki tampan?! Betapa tampannya dirimu!” tiba – tiba Sooyoung berbicara dalam keadaan tidak sadar. Luhan terus berusaha menyadarkan Sooyoung, “ Sojin, kau pulanglah! Biar aku yang mengurusnya!” ucap Luhan. Sojin meninggalkan Luhan yang kini memapah Sooyoung untuk masuk kerumahnya.

Luhan menidurkan Sooyoung di tempat tidur, “ Soo? Sooyoung? Sadarlah!” ucap Luhan menyentuh wajah Sooyoung. “ Apakah anda punya beberapa botol lagi? Saya menginginkannya!” pekik Sooyoung. Luhan berusaha menenangkannya. Sooyoung kini berdiri dan hampir menciumnya, “ Tuan, kau terlalu tampan!” ucapnya tak sadar. Ia kini memulai sifatnya sebagai wanita jalang. Luhan geram. Plak!! Satu tamparan mendarat di pipi wanita itu.

Sooyoung telah sadar. Ia menatap Luhan nanar, “ Lu, betapa teganya kau?!” pekiknya dengan air mata yang kini telah keluar di pelupuk matanya. Luhan merasa bersalah. Tidak seharusnya ia menampar wanita yang dicintainya ini, “ Soo? Bukan itu maksudku.” Pinta Luhan. Sooyoung menangis dan meninggalkan Luhan.

Ia menghilang sebentar ketika Luhan menyadari jika Sooyoung tengah menangis di ruangan dapur dan menyudutkan diri. Luhan menghampiri Sooyoung, “ Soo? Bukan itu maksudku. Aku ingin kau sadar.

Aku ingin kau tidak menjadi jalang begini.” Terang Luhan. Sooyoung masih saja menangis. Luhan terpaksa mengangkat tubuh ringan wanita itu ke tempat keramik yang disampingnya ada kompor gas.

“ Soo? Kau dengar aku?” Tanya Luhan merapikan anak – anak rambutnya. Sooyoung masih saja menitikkan air matanya. Luhan merasa gagal menjaganya. Dihapusnya air mata itu dengan ibu jarinya, “ Sooyoung, jalani hidupmu. Jangan habiskan waktumu dengan begini. Tuhan tidak suka melihatnya.” Ujar Luhan. Wanita itu menatap Luhan sambil terisak – isak, “ Kau juga yang salah, Lu. Kenapa kau mau menampungku? Dan kenapa aku mau berada ditempatmu sekarang? Aku hanya jadi beban pikiranmu beberapa hari ini. Aku wanita berengsek yang seharusnya tidak berada disini. Karena aku wanita berengsek, mereka semua seakan menghindariku dan kau juga. Lu, tolong lepaskan aku. Aku tak ingin kau berpikir tentang aku. Aku ingin kau hidup tenang seperti sebelum aku hadir disampingmu.” Jelas Sooyoung.

Telinga Luhan terasa panas ketika mendengar penjelasan panjang itu. Dan disaat itu juga, Luhan mendaratkan bibirnya di bibir wanita itu membuat Sooyoung sedikit tersentak. Sooyoung berusaha memberontak, namun Luhan mulai melumatnya membuat Sooyoung pasrah. Tangan Luhan kini telah berada ditengkuknya untuk memperdalam ciuman itu. Sooyoung kini dapat membalasnya. Ini adalah ciuman pertamanya dengan Luhan yang benar – benar didasari oleh rasa cinta.

Luhan melepaskan ciumannya, “Aku mencintaimu. Alasan yang kau tujukan adalah alasan yang tetap saja membuatku tidak akan pernah membencimu, karena aku mencintaimu.” Ucap Luhan. Sooyoung kembali menangis, “ Tapi, aku wanita jalang, Lu. Aku tidak bisa bersamamu. Aku peduli padamu.” Kini, Sooyoung yang memberikan suaranya.

“ Terserah orang – orang mau bilang apa. Ketika kau punya niat untuk berubah, kau pasti terasa seperti terlahir kembali.” Ucap Luhan lembut. Sooyoung memeluk Luhan erat. Selepas itu, keduanya kembali melumat satu sama lain. Dan rasa cinta itu telah kembali menghinggapi Luhan. Dulu, cintanya memang tak terbalaskan, sekarang keduanya sebenarnya memang ditakdirkan, walau harus melewati beberapa cobaan yang tidak mudah.

***

Seperti biasa, pagi ini Sooyoung memasak sarapan seperti biasa. Nasi goreng kimchi serta telur adalah menunya. Saat sedang asyik – asyiknya memasak, dua lengan putih bersih melingkar di pinggangnya, “ Hari ini masak apa, sayang?” ucapnya manja. Luhan menaruh dagunya di bahu Sooyoung. “ Ini untukku, bukan untukmu.” Ledek Sooyoung membuat Luhan mengeratkan pelukannya membuat Sooyoung kesal, “ Kalau aku mati kehabisan nafas bagaimana?” kesal Sooyoung sembari menghadap Luhan.

Chu! Sebuah Morning Kiss kilat telah dilakukan Luhan secara ilegal, “ Kau lupa memberikannya, aku hanya menginginkannya.” Luhan mengerling nakal. Sooyoung kembali memasak, “ Kau hari ini kuliah, ‘kan? Cepat mandi!”
.
.
“ Bagaimana bisa kau mencintai wanita jalang itu lagi?” Tanya Suho terkejut ketika Luhan menjelaskan tentang hubungan Sooyoung dan dirinya. Luhan menyiapkan tinjunya, “ Kau ini! Walaupun ia jalang, ia tetap manusia. Kau mau jika aku pacaran dengan seorang alien? Kau pasti akan menjauhiku.” Keluh Luhan. Suho menyandarkan punggungnya, “ Aku ‘kan ingin memberikan yang terbaik untukmu. Kau sahabatku.” Suho mulai membela. Luhan menatap Suho tersenyum, “ Iya, kau teman baikku. Tapi, Sooyoung tidak sehina yang kau pikirkan, Suho. Kenapa kau seakan membenci Sooyoung?”
Suho menggeleng lemah, “ Mantan pacarku sama sepertinya. Wanita jalang juga. Dia terkena HIV dan meninggal dua bulan lalu. Maafkan aku, Lu. Aku marah – marah padamu karena aku tidak ingin kau mengalami hal yang aku alami. Sebaiknya, kau periksa dia sebelum kau benar – benar kehilangan dirinya.” Ucapan Suho membuat Luhan tersadar. Kini, Luhan yang menunduk. Ia mulai resah. Kehilangan Sooyoung adalah mimpi buruk.

***

Sooyoung tengah membaca novel. Awalnya tenang, namun sebuah dentangan pintu membuat Sooyoung terkejut. Ia melihat Luhan mengarah kearahnya dengan wajah yang khawatir. Lalu, ditangkupnya wajah Sooyoung dengan kedua tangannya, “ Sooyoung, jangan bilang kau terkena penyakit itu.” Nada Luhan terdengar melemah.

Sooyoung tersenyum, membuat Luhan heran, “ Kenapa kau tersenyum? Aku tidak ingin kehilanganmu.” Luhan kesal dan memeluk Sooyoung erat. Sooyoung lagi – lagi tersenyum dan melepaskan pelukan Luhan. Ia menggenggam tangan Luhan erat, “ Aku bersih dari HIV. Dokter itu bilang kalau aku sangat bisa menggunakan pengaman saat melakukannya.” Sooyoung tersenyum.

Ucapan itu membuat Luhan mencubit hidungnya, “ Jika sampai kau melakukannya lagi, awas saja!” kesal Luhan. Ia mengecup kening Sooyoung singkat, “ Jangan tinggalkan aku lagi, ‘ya?” mohon Luhan. Sooyoung membalasnya dengan kecupan ringan di pipi,

“ Tidak akan pernah.”

***

Sooyoung memasak makan malam kali ini. Dua porsi japchae, kimchi serta Orange Juice telah tertata rapi di meja makan. Lalu, pintu terbuka menandakan Luhan sudah pulang. Sooyoung melihat jika Luhan membawa beberapa bahan makanan, “ Sudah pulang?” Tanya Sooyoung melepas celemeknya. Luhan membalasnya dengan sebuah senyuman, “ Aku tak ingin lama – lama diluar. Aku rindu Sooyoungie ku.” Manja Luhan memeluk Sooyoung dari belakang serta dagu yang berada dibahu Sooyoung, “ Hentikan kata – kata indah itu, aku geli mendengarnya.” Kekeh Sooyoung.

Keduanya menikmati makan malam sambil memandangi indahnya kota Seoul. Namun, Luhan tidak kunjung memakan makanannya, ia terlalu sibuk. Terlalu sibuk memandangi wanita yang berada didepannya ini. “ Luhan, cepatlah makan. Tidak ada selembar won di wajahku, bukan?” Sooyoung mulai bercanda. Luhan tersenyum sambil menggumam, “Ada sesuatu di matamu.” Gumaman Luhan membuat Sooyoung gelisah, “ Oh, benarkah? Jangan bilang aku terkena penyakit katarak. Oh tidak!”
Luhan tersenyum, “ Ada aku di matamu.” Ucapan itu membuat jantung Sooyoung serasa berdetak dua kali lipat. “ Berapa kali aku harus menyuruhmu berhenti untuk mengucapkan kata – kata seperti itu? Siapa yang mengajarimu, huh?” kesal Sooyoung. Sekarang, Luhan baru memakan japchae miliknya.

“ Sooyoung?” panggil Luhan, namun dalam nada serius. Sooyoung menatapnya, “ Ada apa?” Tanya Sooyoung setelah menyelesaikan satu sendok. Luhan menatap Sooyoung dalam, mata rusa itu menusuk mata Sooyoung, “ Kurasa, aku akan menikah denganmu.” Ucapan Luhan berhasil membuat Sooyoung tersentak. Menikah? Apa Sooyoung tidak salah dengar?

“ Lu, kupikir kita tidak bisa.” Nada Sooyoung melemah. Luhan melepaskan garpunya, “ Jadi, apa maksud hubungan kau dan aku selama ini? Kita saling menyukai untuk menikah nantinya, ‘kan?” Luhan terlihat mengintegrasi Sooyoung. Sooyoung menunduk, “ Tapi, aku yakin keluargamu pasti tidak menerimaku. Kau tahu sendiri jika aku adalah wanita ba-“ ucapan Sooyoung terpotong ketika Luhan sudah menyela, “ Kau bukan wanita bajingan lagi. Jika kau sudah dipelukanku, kau bukan lagi wanita yang seperti itu.” Ucapan Luhan berhasil membuat Sooyoung menangis.

“ Tapi, itu di matamu. Keluargamu pasti menganggapku sebagai penghancur kehidupanmu. Mereka juga menganggapku sebagai wanita itu. Aku tidak sanggup, Lu.” Sooyoung berkata sambil terisak – isak. Luhan menggenggam tangan Sooyoung, bermaksud agar percaya pada dirinya, “ Aku yakin. Kita pasti bisa.” Sooyoung melepaskan genggaman Luhan yang berada ditangannya. Ia berlari menuju kamar.

Menumpahkan semua air matanya dengan hati yang amat berat. Luhan berdiri. Menatap jendela dengan mata rusanya. Lalu, ia bergumam, “ Dibalik indahnya dunia, ada kekejaman.”. Lalu, sebuah ide gila melintas di otak Luhan. Ia segera menyusul Sooyoung ke kamar.
Sooyoung menangis memeluk lututnya di lantai dekat palang ranjang. Luhan mengunci pintu membuat

Sooyoung sedikit tersentak. Ia menatap Luhan yang kini menuju kearahnya, “ Sooyoung..” panggilan itu membuat Sooyoung merinding. Luhan menangkup wajah wanita itu dan menatap matanya, “ Aku rasa, kita harus melakukannya. Dengan ini, kita pasti bisa mendapatkan restu itu.” Ucapan Luhan mendapat penolakan dari Sooyoung, “ Tidak, Lu. Tid-“

Tapi, semuanya terlambat. Luhan sudah membungkam bibir Sooyoung dengan bibirnya. Tanpa sadar,Luhan mengangkat tubuh Sooyoung ke tempat tidur dan membaringkannya disana tanpa melepaskan tautan panas itu. Sooyoung mengalungkan tangannya. Ciuman Luhan lalu turun ke leher jenjangnya membuat Sooyoung mendesah kecil, “ Teruslah mendesah, Sooyoungie..” ucap Luhan disela – sela kecupannya.

Dan Sooyoung menyadari itu, tangan Luhan mulai menyelusup dibalik baju Sooyoung. Meraba – meraba apa saja yang ada disana. Tangan Luhan mulai membuka sebuah pengait yang berada dipunggungnya. Lalu, pada malam itu, kamar itu dipenuhi oleh desahan – desahan keduanya sampai mereka berhenti karena kelelahan.

To Be Continued..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s