The Faker – 03

qarenzapark-copy

Title

The Faker

Author

Qarenzapark

Main Cast

Oh Sehun from EXO
Choi Sooyoung from GG
Yang Yoseob from BEAST
Lee Jonghyun from CN.Blue

Genre

Mystery, Thriller, Action, Romance

Length

Multichapter

Rating

17+ for now ( Dikarenakan adanya adegan kekerasan! )

Poster

ladyoong @ HSG

*Qarenzapark © July 2014*

***

Keadaan Dani memang belum sadar, namun memiliki kemajuan. Yoseob selalu berusaha menjaga adik tercintanya dibalik kesibukannya sebagai seorang agen. Untungnya, ia mempunyai Perawat Park, teman semasa SMU Yoseob yang senantiasa memberikan kabar tentang keadaan Dani.

Yoseob melihat adiknya terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang tertempel ditubuhnya. Sungguh, banyak penderitaan yang dialami Dani diwaktu yang masih belia.
Namun, sosok Minah tak sengaja melewati pikirannya. Gadis itu mengetahui tentang masalah yang diketahui oleh Eagle Eye Team. Kemungkinan besar, Minah juga akan menjadi terror selanjutnya, “ Minah, bagaimana bisa aku melupakannya?!”

Baca lebih lanjut

(Un)believe In Love – 02

qarenzapark-poster-3-copy

ACTOR and ACTRESS :

Choi Sooyoung a.s Sooyoung / Chui Xiu Ying

Zhang Yixing a.s Yixing

Lee Jonghyuk a.s Zhang Yixian

Tiffany Hwang a.s Huang Mei Ying

ADDITIONALCAST :

Bang Minah as Choi Minah

Do Kyungsoo

Rating : PG-15

Length : Multichapter

Poster Credit :

Photo Credit : juliahwang @dramafanfictions

Baca lebih lanjut

Windflower – 02

qarenzapark-windflower-poster_by_vtaehy

Qarenzapark presented..
“ Windflower “
Starring by Xiao Luhan and Choi Sooyoung
With feelin’ Romance, Sad
And have rate: PG-15

Poster : vtaehy at indofanfictionsarts

“ Karena alasan yang kau tujukan adalah alasan yang tetap saja membuatku tidak akan pernah membencimu, karena aku mencintaimu..”
***

PART 2…

Luhan berlari menuju pintu rumahnya. Hatinya murka pada Sooyoung. Bagaimana bisa ia merelakannya tubuhnya pada ayah dari temannya?! Luhan telah membuka pintu dan menemukan Sooyoung yang tengah menyapu rumahnya, “ Choi Sooyoung!” pekiknya membuat wanita itu tersentak. Luhan mencengkeram bahunya dan mendorongnya ke dinding, “ Luhan, kau kenapa?” Sooyoung merasa nyeri.

Baca lebih lanjut

Windflower – 01

canvas1

Qarenzapark presented..
“ Windflower “
Starring by Xiao Luhan and Choi Sooyoung
With feelin’ Romance, Sad
And have rate: PG-15
“ Karena alasan yang kau tujukan adalah alasan yang tetap saja membuatku tidak akan pernah membencimu, karena aku mencintaimu..”
***

PART 1..

“ Lepaskan aku sekarang!”

Wanita itu terus meronta agar dibebaskan. Namun, sang chaebol ( panggilan pengusaha kaya di Korea ) berusia setengah baya itu tersenyum sinis dibalik jeruji besi pribadi miliknya, “ Kau penghasil uangku. Jangan pergi, oke?” Oh Jongseok tersenyum sinis. Sooyoung meludah, “ Cih! Berhenti jadikan aku robotmu, aku sudah tak tahan!” Sooyoung terus meronta.

“ Siapa suruh mau menjadi pekerjaku? Tidak semudah itu kau dapat keluar dari jaring – jaringku, Nyonya Choi Sooyoung.” Ucapnya penuh misteri. Sooyoung menatap Oh Jongseok tajam, “ Berikan kontrak itu, aku akan memutuskan kontraknya!” ucap Sooyoung. Namun, Oh Jongseok malah tertawa, “ Masa kontrakmu masih lama, sayang. Tenang saja.” Oh Jongseok berusaha menenangkan Sooyoung.

“ Brengsek kau! Dimana hati nuranimu? Apakah kau punya harga diri dengan mempekerjakan wanita – wanita yang tidak bersalah?” Tanya Sooyoung semakin pedas. Oh Jongseok berjongkok dan memegang dagu mulus Sooyoung, “ Seharusnya aku yang bertanya. Dimana harga dirimu sekarang? Kau yang menginginkannya ,bukan?” tutur Oh Jongseok licik.

“ Bajingan! Lepaskan aku sekarang, Oh Jongseok!” pekiknya. Oh Jongseok tersenyum licik, “ Ini sudah malam, saying. Tidurlah dengan nyenyak agar dapat ‘bermain’ dengan orang baru besok.” Jelasnya.

Oh Jongseok pergi dikawal oleh dua orang berbadan layaknya pemain football. Sooyoung kesal. Celana pnedek dan kaus putih panjangnya tidak sanggup menahan dinginnya angin. Ia menyesal sekarang. Pada masa sulit dulu, iaharus mencari pekerjaan, namun pekerjaan halal tidak dapat menerimanya. Akhirnya, ia harus berkerja seperti ini. Tidur dengan ratusan pria.

Ditatapnya ponsel berwarna pink itu. Layarnya sudah pecah dan baterainya sudah habis. Sooyoung menangis. Menyesali semua perbuatannya yang membuatnya merugi. Merelakan keindahan tubuhnya demi uang dan kenikmatan dunia.
Sooyoung menghapus air matanya, membulatkan tekadnya, “ Aku harus keluar dari tempat terkutuk ini. Harus!” ucapnya.

Sooyoung mencari – cari sesuatu yang dapat membuatnya keluar dari tempat ini. Dan pandangannya teralih pada sebuah ventilasi berukuran sedang. Dan Sooyoung berpikir jika tubuh langsingnya itu dapat masuk kedalam ventilasi keberuntungan tersebut.

***

Mahasiswa dari Universitas Chung-Ang itu tengah berjalan seraya menyeruput bubble-tea nya. Hari ini sangat mengesalkan. Pertama, ia flu. Kedua, telat bangun. Ketiga, dihukum dosen Yunho karena lupa membawa skripsi. Luhan adalah mahasiswa jurusan sastra di Chung-Ang. Lelaki bermarga Xi ini pemilik IQ 144.

Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang semakin mendekat kearahnya. Luhan masih belum bergeming dan masih melanjutkan pandangan melihat wanita itu berlari semakin mendekat itu kearahnya. Dan sekarang sudah terlihat jelas. Wanita itu mengenakan celana pendek, kaus putih panjang, serta sepatu kets denim. Lama – kelamaan wanita itu semakin mendekat padanya dan berhenti tepat dihadapannya membuat Luhan mengernyitkan dahi.

Wanita itu melihat kebelakang sekilas, dalam hitungan detik, wanita itu mendaratkan bibirnya di bibir Luhan. Luhan terkejut. Wajahnya memerah, dan detak jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Siapa sih wanita ini? Para mahasiswa lain pasti tengah menonton drama Korea yang sedang berlangsung ini.

Wanita itu kemudian melepaskan kecupannya, lalu menarik pergelangan lelaki itu, “ Maafkan aku, aku akan meminjammu sebentar.” Ucap wanita itu sambil tetap menarik pergelangan tangan lelaki tersebut. Sungguh! Wanita ini tenanganya sama kuatnya dengan pemuda seperti Luhan.
Mereka bersembunyi disebelah gedung. Wanita itu mengatur nafasnya, lalu menatap lelaki penolongnya,” Terimakasih tuan– eh?” tiba – tiba wanita itu terdiam/ Wajah wanita ini sangat familiar di otak Luhan, “ Ch–Choi Sooyoung!” pekik Luhan membuat Sooyoung ingin berlari, namun tangannya ditahan Luhan.

“ Kemana saja kau selama ini?”

“ Kumohon, maafkan aku, Luhan. Maafkan aku mempermalukan keluargamu karena pertunangan bodoh itu.” Sooyoung meronta minta dilepaskan. “ Bukan keluargaku, tapi keluargamu. Mereka pasti mencarimu sekarang.” Jawab Luhan. “ Tapi, aku tidak bisa pulang, Luhan. Aku tidak ingin mereka kecewa denganku.” Ucapnya lemah.

“ Aku tak tahu harus kemana sekarang.” Ucapnya merosotkan tubuhnya didinding gedung. “ Kau terlalu ceroboh, Sooyoung.” Ucap Luhan. “ Apakah kamu punya solusi?” Tanya Sooyoung. Luhan menggeleng. Namun, sebuah pikiran gila melintas di otak Sooyoung, “ Lu?”

“ Hm?”

“ Izinkan aku tinggal dirumahmu sementara.”
Ucapan terakhir Sooyoung membuat Luhan terkejut, “ Kau gila?! Mana mungkin aku mengizinkan perempuan tinggal dirumahku dan tanpa ikatan apa – apa.” Tolak Luhan. Sooyoung memeluk kaki Luhan membuatnya tak tega, “ Luhan, tolong aku. Aku tidak mungin pulang kerumah. Aku juga tak ingin dijadikan wanita bajingan lagi.” Sooyoung melemah. Membantu orang tak salah. Luhan hanya dapat mengiyakannya. “ Baiklah, hanya sementara.”

***

“ Jadi, ini rumah barumu, Lu?” Tanya Sooyoung setelah menutup pintu. “ Benar. Duduklah, aku akan membuatkan teh.” Ujar Luhan mengarahkan dirinya ke dapur yang dapat terlihat dari ruang tamu yang ditempati Sooyoung. Rumah ini terlihat gelap karena gorden jendela tidak dibuka. Sooyoung membangkitkan dirinya menuju jendela dan menarik gorden kesamping agar terang, “ Lu, lainkali buka saja gordennya. Rumahmu tak akan jadi gelap dan ada udara yang masuk.” Pesan Sooyoung.

Luhan telah membawa dua cangkir teh ke meja dan mendudukkan dirinya, “ Ceritakan padaku kenapa kau bisa menjadi seperti ini.” Luhan meminta penjelasan pada Sooyoung. Wanita itu ikut duduk, “ Kau tahu, ‘kan keluargaku susah? Aku ingin pergi dan mencari pekerjaan. Namun, hanya pekerjaan ini yang hanya aku dapat. Dan karena pekerjaan ini, aku tidak berani untuk menginjakkan kaki ke rumah. Aku takut jika aku akan diusir walaupun dalam keadaan banyak uang.” Jelas Sooyoung.

“ Tentu saja mereka tidak terima. Jelas – jelas yang kau lakukan itu salah. Kau wanita bodoh.” Ucapan Luhan membuat Sooyoung merasa tersinggung, “ Lu, hargai aku sebagai wanita. Perkataanmu menyinggungku.” Keluh Sooyoung. Luhan mendekatkan wajahnya, “ Kau wanita. Tapi tak punya harga diri.” Tukas Luhan. Sooyoung memijit kepalanya frustasi, “ Aku wanita bajingan kan, Lu?” Tanya Sooyoung cemas. “ Selama kau tidak melakukan pekerjaanmu lagi, julukan itu akan hilang dari kehidupanmu.” Pesan Luhan.

“ Lu, tolong ajari aku untuk memulai kehidupanku kembali.”

***

“ Lu, kau tak dengar jika para gadis – gadis universitas menggosipimu?” Suho mengadu pada Luhan ketika Luhan tengah jadi bahan sorotan. “ Sebenarnya siapa sih wanita kemarin itu?” Tanya Suho. Luhan terdiam. Apa yang harus dikatakannya pada Suho? “ Eum, dia wanita brengsek biasa.” Luhan berdusta. Namun, Suho tidak percaya. Ia mengerutkan kening, “ Tapi, sepertinya aku pernah melihat gadis itu, Lu.” Tukas Suho. “ Jangan bohong, Lu.” Sambung Suho.

“ Dia Choi Sooyoung..” ucapan Luhan sontak membuat Suho membulatkan matanya, “ Apa?!!! Yang benar saja, Lu!” pekikan Suho yang menyebalkan membuat Luhan harus menutup mulut Suho, “ Kecilkan suaramu, Suho!”

“ Bagaimana bisa kau bisa bertemu gadis yang tidak bertanggung jawab itu?”

.
.

Telinga Luhan sudah dipenuhi dengan gosip – gosip tentang dirinya. Baru sehari Sooyoung tinggal di rumahnya, ia sudah dapat masalah. Ingin rasanya melemparkan semua kekesalannya pada Sooyoung yang merupakan biangnya. Sehabis Luhan menutup pintu, ia menghampiri Sooyoung yang ternyata berada di dapur sembari memasak. “ Sooyoung!” wanita itu bisa mendengar jika Luhan memanggilnya, “ Semua ini terjadi karenamu!” ia terlihat marah.

“ Apa ada masalah?” Tanya Sooyoung. Luhan mendekati Sooyoung, “ Para mahasiswa dan lainnya membicarakanmu karena kau menciumku kemarin.” Kesal Luhan. Sooyoung menunduk, “ Maafkan aku, Luhan. Aku harus melakukannya agar tak dikejar.” Sooyoung meminta pengampunan. Luhan menghela nafas frustasi, “ Hari ini saja sudah begini. Bagaimana kedepannya?” gumamnya. Sooyoung merasa bersalah. Ia meletakkan masakannya di piring dan membawanya ke meja, “ Makanlah dulu. Jika ingin mengamuk, nanti saja setelah makan. Kau bebas memarahiku. Dan aku izin sebentar keluar.”

“ Kau mau kemana?” Tanya Luhan. Sooyoung melepaskan celemeknya, “ Ke suatu tempat, yang jelas bukan tempat yang kemarin – kemarin. Aku permisi.” Ucap Sooyoung lalu menghilang di pintu. Luhan hanya bisa menerima permintaan Sooyoung. Dan pandangannya terfokus pada masakan yang dibuat Sooyoung, “ Kelihatannya lezat juga.”

***

“ Jadi, sekarang kau tinggal dimana, Soo?” Tanya Sojin sembari menatap Sooyoung selidik. “ Tinggal dirumah Luhan.” Ketika mendengar nama Luhan, Sojin membulatkan matanya, “ Luhan? Kau serius kan?!” Sojin ingin meminta penjelasan. “ Benar. Aku tinggal dirumahnya untuk sementara waktu.” Tutur Sooyoung dan meminum kembali segelas soju yang membuat Sojin khawatir, “ Sooyoung, tidak baik terus – terusan meminum soju seperti ini. Soju bukanlah tempat pengaduanmu.” Nasehat Sojin.

“ Tapi, botol – botol mengerikan ini dapat membuat beban ku hilang sementara, ‘kan?” jawab Sooyoung membuat Sojin harus diam. “ Kalau begitu, ayo berhenti minum. Aku akan mengantarmu ke tempat Luhan.”
.
.

“ Terimakasih, Sojin. Kau telah membawa Sooyoung dengan selamat.” Ucap Luhan berterimakasih. “ Tak apa, Luhan. Sooyoung adalah temanku. Semua masalahnya dicurahkannya padaku.” Tukas Sojin. “ Bahkan aku tak menyangka kau mengizinkannya untuk tinggal dirumahmu.” Sambungnya.

“ Dia tidak punya tempat tinggal lagi. Ia juga takut pulang ke rumah dengan kondisi tidak memungkinkan.” Jelas Luhan. Sojin hanya tersenyum melihat Sooyoung yang kini tengah tertidur pulas, “ Luhan, kau harus menjaganya baik – baik.” Ucapan Sojin membuat Luhan tidak mengerti, “ Maksudmu?”

“ Dia hanyalah gadis kesepian, Lu. Dia tidak punya teman selain aku. Dan sekarang, kau hadir di sisinya. Aku tidak selalu bisa menemaninya karena aku sudah menikah. Kuharap, kau dapat menjaga hatinya yang tengah kesepian. Harta bukanlah tujuannya. Tapi, ia mencari seseorang yang dapat menjadi sandarannya.” Jelas Sojin. Dan Luhan masih mencerna kalimat itu.

“ Ini sudah malam. Suamiku pasti tengah menunggu. Sekali lagi, terimakasih. Aku permisi.” Sojin berpamitan pada Luhan.Ucapan Sojin ada benarnya. Sooyoung cuma wanita yang kesepian. Luhan menatap wajah polos itu. Ia mendekatinya dan menatap wajah itu dalam, “ Sooyoung, kenapa kau begini? Kenapa minum soju sampai sebanyak itu?” keluhnya. Tangannya merapikan anak – anak rambutnya yang jatuh ke bawah.

“ Sooyoung, aku tahu kau pasti bisa berubah.”

***

Sooyoung terbangun dari tidurnya. Tunggu? Bukankah ini kamar Luhan? Kenapa ia berada disini? Sooyoung memutuskan keluar kamar dan mencari Luhan. Dan matanya terarah pada sosok yang kini tertidur pulas di sofa empuknya, “ Lu, kau terlalu baik.” Singkatnya. Ditariknya selimut ditubuh Luhan hingga ke lehernya, “ Jika masih ngantuk, jangan bangun, ‘ya.” Gumam Sooyoung seraya tersenyum.

Dilangkahkannya kaki menuju dapur dan memasangkan celemek ditubuhnya. Sekarang yang harus dikerjakannya adalahmemasak sarapan pagi untuk si pahlawan tampannya itu.

.
.

Aroma lezat dari dapur membuat Luhan tak tahan di alam bawah sadarnya. Ia menyadari ada seseorang yang tengah memasak didapur. Kakinya melangkah dan menemukan sosok Sooyoung dengan celemek biru didapur, “ Oh, sudah bangun, ‘ya? Tunggu sebentar. Pancake-nya sebentar lagi akan siap.” Ucap Sooyoung diselingi sebuah senyuman.

“ Kau terlalu rajin, Soo. Jujur, aku jarang sarapan pagi.” Singkat Luhan dengan mata yang masih sayu. “ Itulah yang membuatmu tidak berenergi, Lu. Sarapan itu penting.” Pesan Sooyoung. Luhan hanya menganggukkan kepalanya. “ Tunggulah di meja, aku akan menyiapkannya.”

Sepiring pancake dan segelas susu telah tersaji di meja makan. “ Kau tidak makan, Soo?” Tanya Luhan setelah memasukkan sesendok potongan pancake kedalam mulutnya. “ Tidak. Aku sudah sarapan tadi. Melihatmu makan saja aku sudah kenyang. Bagaimana dengan pancake nya?” Tanya Sooyoung antusias.

“ Enak. Terimakasih untuk sarapannya. Eum, aku akan pergi kuliah 20 menit lagi. Kau tidak kemana – mana, ‘kan?” Tanya Luhan. Sooyoung menggeleng, “ Aku ingin berada di rumah saja.” Singkatnya. Luhan tersenyum kecil, “ Tapi, tolong jangan hancurkan rumahku, ‘ya?”

“ Lihat saja, aku akan membakarnya nanti, Xi Luhan!”

***

Suho dan Luhan kini tengah duduk santai di taman sambil membaca buku, “ Lu, bagaimana dengan Sooyoung yang berada di rumahmu?” Tanya Suho memecahkan keheningan. “ Dia baik – baik saja, kok. Bahkan, ia memasakkanku sarapan tadi pagi.” Jawab Luhan enteng. Suho menutup bukunya, “ Bagaimana jika keluargamu mengetahui jika Sooyoung berada di rumahmu?” Tanya Suho lagi.

“ Orangtuaku masih berada di China. Ia akan ke Seoul saat musim dingin nanti.” Ucap Luhan. Suho mengangguk – angguk mengerti, “ Jika keluargamu mengetahui Sooyoung, kau akan dihabisi, Lu.” Ucapan Suho membuat Luhan tidak mengerti. “ Kenapa?” Tanya Luhan.

Suho mendekatkan dirinya pada Luhan dan berbisik,” Karena dia adalah seorang pekerja seks yang melayani petinggi – petinggi dunia hiburan. Aku mengetahuinya dari blog yang dikunci. Dan blog itu adalah merupakan blog dari seorang pengusaha terkenal. Kalau tak salah, marga nya Oh.” Jelas Suho. “ Dia bahkan merelakan tubuhnya pada presiden salah satu perusahaan otomotif yang terkenal di Seoul.” Sambung Suho. Tubuh Luhan mulai bergetar. Bagaimana bisa Sooyoung memberikan tubuhnya dengan mudah pada petinggi – petinggi bajingan itu? Semua yang dipikirkan mereka hanya uang dan kenikmatan dunia. Hal ini membuat Luhan menggeram. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada tubuhnya?

“ Suho, aku harus pulang cepat. Kurasa, ada sesuatu yang harus dikerjakan.”

*Session Continues*

[ BONUS ] Don’t Flirt Her

vintage_clock_by_yellowcandyfloss-d4vemni“ Don’t Flirt Her “

“ Apa? Jadi kamu menyukai Nia?! Anak eskul vokal itu, ‘kan?”
Hanin membulatkan kedua matanya ketika ia mengetahui Axel menyukai Nia yang merupakan gadis popular di sekolah. “ Ya. Memangnya kenapa?” Tanya Axel sembari mengemut permennya. Hanin menopang dagunya dengan kedua tangan, “ Kamu yakin? Kamu tahu ‘kan jika Nia salah satu murid popular di sekolah? Dia juga di incar oleh para lelaki. Sedangkan kamu–“
“ Jadi, kamu merendahkan aku karena aku hanya pemain sepak bola? Aku tahu jika aku tidak sepopular anak basket yang tinggi dan memiliki badan yang oke – oke.” Axel mengeluh dengan pernyataan Hanin. “ Bukan itu maksudku, Xel. Gadis seperti Nia pasti susah mengajaknya kencan. Lagipula, ini berurusan dengan hatinya, ‘kan?” terang Hanin.
“ Kamu ‘kan dekat tuh dengan Nia. Tolong aku, ‘ya?” pinta Axel. Hanin malah terkekeh, “ Aku takut jika kamu ditolak.” Ucap Hanin. “ Yah, kamu. Belum mencoba saja sudah menyerah. Jadi tidak semangat lagi.” Kesal Axel. Hanin tertawa seraya mencubit kedua pipi Axel gemas, “ Tentu saja. Aku akan melakukan apapun untuk sahabat jelekku ini.” Tukas Hanin.
“ Jelek – jelek aku sahabatmu juga, ‘kan? Dasar!”
***
Hanin tidak sengaja bertemu dengan Nia yang berada di taman sambil bernyanyi. Hanin memutuskan untuk menghampirinya dengan beberapa cemilan dan minuman menyejukkan, “ Nia? Kok kamu disini?” Tanya Hanin sambil mendudukkan dirinya. “ Oh, Hanin. Tidak ada. Aku malas berada di rumah. Lagipula–, eghh, tidak ada.” Nia memotong perkataannya. Dan Hanin dapat mencerna itu, “ Ayah ibumu bertengkar lagi, ‘ya?” Tanya Hanin. Nia hanya menjawabnya dengan senyuman, “ Aku tak akan lagi mengurusnya. Menjadi anak tunggal itu sangat tidak menyenangkan.” Terang Nia.
“ ‘Kan kamu punya aku.” Hanin menenangkan Nia. “ Tapi, kamu tidak bisa menemaniku secara terus – terusan ‘kan? Kamu punya keluarga sendiri, Hanin.” Nada bicara Nia seakan mengeluh. Tiba – tiba, hujan datang menyerbu mereka, “ Aduh, rumahku jauh!” kesal Hanin. Dan disaat itulah, Nia menawarkan bantuan, “ Ayo kerumahku saja. Sudah lama kamu tidak berkunjung ke rumahku.” Ajak Nia.
.
.
Kamar Nia adalah kamar paling menakjubkan menurut Hanin. Kamarnya cukup besar dan bahkan memiliki fasilitas musik, ukuran menengah seperti gitar, biola dan lainnya. Hanin menyusul Nia yang berada di sofa, “ Kamarmu belum berubah juga.” Terang Hanin memujinya. Nia hanya dapat tersenyum.
“ Nia!”
Teriakan dari lantai bawah membuat Nia sedikit terkejut, “ Hanin, kamu tunggu disini saja. Aku akan ke bawah sebentar.” Ucap Nia lalu pergi dari hadapan Hanin. Hanin mengelilingi kamar Nia takjub. Kadang, ia memetik senar gitar asal. Dan pandangannya teralih pada sebuah secarik surat yang terletak pada meja belajar. Jujur, ini memang sangat tidak sopan. Namun, Hanin merasa hatinya harus mengetahui isinya. Intinya, setelah membaca ini, Hanin harus meminta maaf pada Nia karena memeriksa yang seharusnya tidak diperiksanya.
Ia membuka surat itu. Surat Kesehatan dari Rumah Sakit. Awalnya, hanya tercantum nama serta profil Nia. Namun, matanya membulat ketika sederet kalimat membuatnya tidak menyangka. Monster itu menyerang tubuh Nia. Dibalik sifat cerianya, selain problem orangtuanya, ia juga memiliki penderitaan yang lebih parah. Penderita Leukemia.
“ Hanin?”
Suara itu mengejutkan Hanin. Nia telah berada di pintu seraya menatapnya. “ Aku tidak bermaksud begitu, Nia.” Hanin merasa bersalah. Ia menyembunyikan surat itu dan terus menunduk. Nia mendekati Hanin dan memohon, “ Hanin, kumohon jaga rahasia ini. Kemarin, aku dan Paman pergi ke rumah sakit dan aku mengetahui kondisi ku yang sebenarnya. Kuharap, kamu dapat menjaganya. Orangtuaku tidak tahu kondisiku.” Pinta Nia.
Hanin memeluk Nia erat, “ Kamu harus sembuh, Nia. Harus! Aku tidak ingin kehilangan sahabatku!” ucap Hanin. Tangan kanannya bergetar membuat surat yang dipegangnya tadi terlepas. Nia memeluk tak kalah erat, “ Aku pasti akan berjuang, Hanin.”
***
Hanin duduk termenung tanpa ingin menikmati sekotak susu coklat favoritnya. Dari semalam, ia terus memikirkan kondisi Nia yang hampir tidak dapat dipercayai. Lalu, Axel datang sambil membawa nampan berisi makanan, “ Pagi, jelek!” sapanya seraya tertawa. Hanin tersadar dari lamunannya dan kini menatap Axel serius, “ Axel?” panggilnya.
“ Ya, ada apa, Hanin?” Tanya Axel setelah meneguk airnya.
“ Tentang kamu yang ingin mengejar Nia..kurasa kamu harus berpikir dua kali.” Ungkapan Hanin membuat Axel sedikit tersedak. “ Kenapa? Karena aku hanya pemain sepakbola?” lagi – lagi, pertanyaan itu selalu ditanya Axel. “ Bukan, Xel. Kurasa, ia ingin mengosongkan hatinya untuk masalah – masalah yang dihadapinya. Dan sayangnya, aku tak pernah bisa untuk mengungkapkannya.” Jelas Hanin.
“ Katakan saja. Aku pasti menerimanya, kok.” Axel mendesak. Namun, Hanin menggeleng, “ Janji tetaplah janji. Kuharap kamu mengerti.” Singkat Hanin. Axel hanya mengangguk santai, “ Bagaimana? Apa kau sudah berkata padanya tentang aku?” Tanya Axel. Hanin meminum susu coklatnya, “ Sudah. Dia hanya menanggapinya dengan senyuman.” Singkat Hanin. Axel tampak tersenyum, “ Kurasa, ia menyukaiku juga.” Axel percaya diri. Tapi, ini bukan lelucon biasa. Ini lebih serius. Hanin tidak ingin membuat Axel kecewa di masa mendatang, “ Tapi, kumohon jangan berpacaran dulu dengannya.” Pinta Hanin.
“ Kamu ini kenapa, sih? Kenapa kamu berusaha menjauhkan Nia dariku?” kesal Axel. “ Memberitahuku tentang masalah Nia saja kamu tidak mau.” Sambungnya. Hanin menghela nafas malas, “ Aku tidak ingin mengecewakan Nia nantinya. Kamu tahu juga, aku sudah bersahabat dengan Nia sejak kecil. Aku tidak ingin merusak persahabatan itu.” Jelas Hanin.
“ Oh, apakah kamu cemburu? Kamu temanku, Hanin!” Axel menekan kalimatnya. Hanin kini berdiri, “ Aku tidak pernah cemburu terhadapmu. Ini kulakukan juga untukmu. Aku member nasehat untukmu. Aku pergi!” Hanin melangkah kesal meninggalkan Axel yang kini mematung. Dan hati Axel juga merasa bersalah.
***
Seminggu ini, Hanin tidak lagi berhubungan dengan Axel. Ia berusaha menjauhi Axel karena kejadian itu. Namun, pagi ini Hanin malah mendengar kabar tentang sahabatnya itu.
“ Hei, apakah kalian dengar jika senior Nia berpacaran dengan senior Axel dari sepakbola?”
“ Senior Axel memang bukan murid popular, tapi ia mengalahkan ketampanan senior Kevin.”
“ Aku yakin, senior Axel hanya memanfaatkan senior Nia hanya untuk mendapat ketenaran.”
“ Benar. Itu sangat murahan.”
Gosip demi gosip menyebar membuat telinga Hanin sakit. Ini dampaknya setelah Axel dan Nia berpacaran. Dipikir – pikir, Axel cukup berani mengungkapkan perasaannya pada gadis sepopuler Nia. Pandangan Hanin terarah pada Axel dan Nia yang kini berada di kantin berdua. Hanin menghampiri mereka, dan bukan bermaksud menghancurkan makan siang mereka.
“ Axel, aku butuh bicara denganmu.” Singkat Hanin. Axel menatap Hanin malas, “ Apakah kamu tidak lihat jika aku sedang makan?” Tanya Axel.” Aku tahu kamu sedang makan. Tapi, waktu lima menit dan kamu tidak makan tidak membuatmu mati, ‘kan?” Tanya Hanin. Nia hanya menonton. Axel terpaksa mengikuti kemauan Hanin, “ Nia, tunggu disini. Aku ingin bicara dengannya.”
Axel mengajak Hanin ke tempat yang sedikit jauh, “ Kenapa kamu menghancurkan makan siangku dengan Nia?!” kesal Axel. Hanin ikut emosi, “ Apakah kamu tidak dengar jika para murid – murid menggosipimu yang aneh – aneh? Sudah berapa kali ku bilang jangan dekati Nia dulu.” Hanin ikut menjawab. “ Aku tidak peduli dengan mereka. Dan kenapa kamu peduli terhadapku? Kamu bukan lagi sahabatku!” emosi Axel memuncak. “ Kamu cemburu, ‘kan?” dan perkataan terakhir Axel membuat Hanin kini benar – benar marah, “ Berapa kali aku katakan jika aku tidak cemburu? Aku sahabatmu, aku tidak pernah menyukaimu lebih. Terserah apa yang mau kamu lakukan, aku tidak akan pernah mengurusimu lagi!” Hanin melangkah pergi meninggalkan Axel yang mematung.
“ Nia!!!!”
Namun, sebuah teriakan yang memekakkan telinga membuat Hanin terperanjat dan menoleh. Ia berlari ke asal suara. Ia terkejut melihat Nia yang kini tak sadar dipangkuan Axel dan hidungnya mengeluarkan darah. Hanin menyuruh beberapa orang untuk memanggil ambulan, “ Tolong telepon ambulan segera. Siapapun!”
.
.
Gadis itu telah membuka matanya, namun bukan sosok Axel yang berada dihadapannya. Melainkan Hanin yang ternyata selalu menemaninya bahkan tidak tidur untuk menjadi orang yang pertama melihat mata Nia terbuka, “ Hanin?” suara sang gadis melemah. Hanin menggenggam tangannya lemah, “ Aku akan memanggil dokter dan Axel. Tunggulah!” Hanin mulai melangkah, namun Nia meraih tangannya, “ Tak perlu, Hanin. Aku hanya ingin kamu yang berada disini.” Ucap Nia. Hanin mengeluarkan air matanya.
“ Nia, tepati janjimu untuk sembuh. Aku ingin kita bersama lagi. Aku ingin melihatmu makan siang bersama Axel seperti biasanya.” Ucap Hanin terisak. “ Aku sudah berusaha. Namun, tidak bisa. Dan ini..” Nia memberikan buku diary nya pada Hanin membuat Hanin heran, “ Untuk apa, Nia? Kenapa kau memberikannya?” Tanya Hanin.
“ Berikan ini ke Axel. Aku ingin ia mengetahui semuanya. Dan berikan setelah aku sudah tiada lagi di sampingmu dan dirinya. Katakan jika aku mencintainya. Katakan jika aku hanya untuknya. Katakan jika aku tak pernah meninggalkannya.” Kini, air mata itu keluar dengan derasnya dari kedua pelupuk mata indahnya. Keduanya menangis seraya memeluk. Nia semakin lemah dan Hanin semakin rapuh. Jika Axel mengetahui ini, entah apa yang terjadi.
“ Hanin, terimakasih telah menjadi Tinkerbell – ku selama ini. Kamu mempertemukan seorang Wendy dengan Peterpan nya. Kamu adalah peri terbaik yang selalu diceritakan oleh ibuku. Kamu tidak akan pernah aku lupakan, Hanin.” Suara Nia makin melemah. Setelah penjelasan panjang itu, matanya mulai tertutup tenang. Suara mengerikan itu memekakkan telinga Hanin. Ia menangis sejadi – jadinya. Lututnya terasa lemas. Ia terjatuh dalam keadaan yang sangat rapuh.
Para dokter memenuhi ruangan. Dan Axel berdiri di pintu. Matanya sembab. Tubuhnya naik turun mengatur nafasnya. Hanin memutuskan untuk bangkit dan keluar dari ruangan itu. Sebelum keluar, ia memandang sekilas Nia yang tersenyum yang kini telah ditutupi selimutnya menandakan ia telah bahagia dengan malaikat – malaikat yang selalu berada disisinya. Ketika dirinya telah mencapai pintu, Axel bergumam tanpa menatapnya, “ Kenapa kamu tak pernah bilang jika ia menderita ini?” ucap Axel berusaha tegar.
Hanin mengatur nafasnya dengan air mata yang masih mengalir di kedua pipinya, “ Karena kamu tidak pernah mau mendengarkanku. Semua yang kulakukan untukmu agar membuatmu tidak kecewa. Dan ini, dari Nia..” Hanin memberikan diary itu pada Axel. Hanin melangkah pergi, meninggalkan Axel yang kini berduka seraya memeluk diary milik gadis yang dicintainya.
***
Suasana mendung menyelimuti pemakaman Nia. Si gadis cantik yang kini tak bisa dilihat lagi karena ia sudah tenang di alam yang paling indah diciptakan Tuhan. Axel tidak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Dan Hanin menemukannya yang duduk di taman tidak berada jauh dari pemakaman.
“ Kamu sudah membacanya?” Tanya Hanin duduk sedikit jauh dari Axel. Axel menunduk, “ Sudah. Isinya perih.” Singkatnya. Hanin tersenyum pahit lalu memandang Axel, “ Lusa, aku berangkat ke Moskow.” Ungkapan Hanin membuat Axel menatapnya, “ Kenapa? Kamu berusaha menghindariku? Aku tidak punya siapa – siapa sekarang.” Tanya Axel mendapat gelengan dari Hanin, “ Tidak. Selepas SMA ini, aku kuliah dan segera menikah dengan calon tunanganku, Nino. Ia bekerja di Moskow dan aku harus ikut.” Jelas Hanin.
“ Kamu akan kembali, ‘kan?” Tanya Axel. “ Dalam jangka waktu 2 – 3 tahun.” Singkat Hanin. Axel menghela nafas, “ Selamat Berbahagia, Hanin.” Ucap Axel. Hanin tersenyum. Ia berdiri dan kini akan pergi setelah berpamitan dengan Axel, “ Jaga dirimu baik – baik disini.”
Axel hanya menjawabnya dengan anggukan. Hanin melangkah pergi. Meninggalkan Axel dengan ribuan rasa kecewa, sedih, kehilangan, dan lainnya. Kini, ia harus belajar bangkit dan tidak terpuruk dalam dukanya.
***
6 Years Later..
“ Ibu, kita akan kemana?” Tanya gadis kecil berusia 6 tahunan yang menggenggam tangan ibunya erat. “ Ke tempat teman ibu yang paling cantik.” Jawab ibunya sembari tersenyum. Ini sudah 6 tahun ia tidak kembali ke Jakarta untuk mengunjungi Nia. Setelah sampai di makam Nia, ia memberikan sebuket bunga didekat batu nisannya. “ Namanya Nia, bu? Kok sama sepertiku?” Tanya Nia. Ibunya berjongkok mencubit pipinya, “ Karena kamu sama cantiknya dengan Tante Nia.”
“ Hanin?”
Sebuah suara membuat Hanin menoleh. Ia sangat mengenali suara itu serta tubuh itu. Axel. Rambutnya kini sudah berubah. Tangannya membawa sebuket bunga baby’s breath. “ Axel? Sudah lama tak berjumpa.” Hanin membuka topik pembicaraan. Axel meletakkan sebuket bunga bawaannya di batu nisan, “ Ini bahkan sudah 6 tahun.” Singkatnya seraya tersenyum.
“ Maafkan aku karena tidak menepati janji itu. Perkenalkan, putriku. Namanya Nia.” Hanin memperkenalkan putrinya pada Axel. “ Nia?” Tanya Axel. “ Iya, om. Namaku Nia. Salam kenal!” Nia terlihat antusias. Axel tersenyum cerah. “ Jangankan namanya, wajahnya saja membuatku teringat akan Nia.” Puji Axel mendapat senyuman dari Hanin. Si imut Nia melepaskan pegangannya pada ibunya. Kini, ia berada disamping makam dan menyiapkan sesuatu.
“ Tante Nia, Ibu sering bilang jika Tante adalah teman baik seumur hidupnya. Tante adalah orang yang kuat. Aku ingin seperti Tante. Dan sebagai hadiahnya, aku akan menyanyikan lagu. Maaf jika lagunya jelek.” Terang Nia menyiapkan suaranya. Ia memang suka menyanyi sejak kecil.

Under a trillion stars
Dibawah triliunan bintang
We danced on top of cars
Kita menari di atas mobil – mobil
Took pictures of the state
Mengambil gambar Negara bagian
So far from where we are
Yang begitu jauh dari tempat kita berada
They made me think of you
Gambar – gambar itu membuatku memikirkanmu
They made me think of you
Gambar – gambar itu membuatku memikirkanmu
“Birdy – Wings “

FIN

Terinspirasi dari Film Thailand , “ The Last Moment “ pada tahun 2008